secret room of an angel

(Twins Not Always Same Sekuel) I’m Still Loving You

Tittle : (Twins Not Always Same Sekuel) I’m Still Loving You

Author : Sung Je Mi a.k.a devilygusiltapitakutamadosa

Lenghth : Oneshoot
Genre : Romance, Friendship, AU
Cast :
Park Hyerin~ OC’s
Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk~ Super Junior
Kim Kibum~ Super Junior
Park Hyorin~ OC’s
Lee Donghae~ Super Junior
Shin Jinmi~ OC’s
Rating : Teenager
Yak aku balik lagi dengan sekuelnya Twins Not Always Same sebenernya author enggak minat sih buat sekuelnya tapi karena lumayan yang komen jadinya author usahain… Buat promote ajah twitter author @SungJeMi kalo mau follow pasti aku followback kok… :DCukup basa basinya selamat baca aja buat para readers.
^^HAPPY READING^^

Eunhyuk POV
Sejak aku bertemu dengan Hyorin hatiku selalu bahagia. Tak sedetikpun aku melupakan siluetnya juga senyumannya. Setiap memori yang ada dibenakku tentang kejadian-kejadian dimana ada aku dan dia selalu melekat diotakku.
Meski semua itu sudah sangat lama dan bisa terbilang kusam kalo itu adalah sebuah buku. Aku masih akan tetap mengingat setiap detik bersamanya. Kini yeoja yang sudah lama menghilang itu muncul kembali dan sudah bertansformasi menjadi seorang yeoja yang anggun dan sopan meski ada sedikit rasa aneh dengan nada berbicaranya saat bercerita tentang momen-momen indah bersamaku sewaktu dulu.
“YA~ Lee Hyukjae” Lamunanku dibuyarkan oleh teriakan Donghae. “Eh, Hae? Kenapa kau bisa berada disini?” Donghae tersenyum. “Tentu saja bisa hari ini ada seorang dokter yeoja baru. Jadinya sepi deh pasienku”
MWO?! Dokter yeoja. Hahahahaha… Rupanya chinguku yang satu ini merasa tersaingi. “Lalu? Kau cemburu padanya?” Donghae terbelalak. “Tentu saja tidak. Bagaimana bisa aku seperti itu” aku kembali pada aktivitas semulaku.
“Kau pasti sedang melamun Hyorin ya?” Aku mengangguk. “Ne” “Apa ada yang salah dengan dia” Pertanyaan Donghae tepat sasaran. “Aku memang sangat senang dan bahagia juga ada perasaan cinta saat aku bertemu dengannya. Tapi ada satu hal yang mengganjal”
Donghae menarik kursi didepanku. “Apa itu?” Aku menghela nafasku. “Setiap kali aku melihat matanya terselip pertanyaan dibenakku ‘Apa dia benar Hyorin?’ Kalau menurutmu apa maksud dari semua itu?”
Donghae nampak berfikir. “Ketakutan?” Aku tak mengerti apa yang dimaksud Donghae. “Aku tak mengerti” “Begini lo Hyuk-ah kau mengalami ketakutan kalau kau hanya berhalusinasi akan keberadaan Hyorin dan kau takut dia akan meninggalkanmu lagi”
“Aku paham jika persaan seperti itu tapi ini berbeda Donghae-ah. Saat aku menceritakan masa laluku bersamanya dia akan menunjukkan wajah datar, atau saat aku menyuruhnya menceritakan kejadian masa lalu yang paling berkesan dihatinya dia akan mengalihkan topik pembicaraan”
Saat akan menjawab pernyataanku handphone Donghae berdering.
Neo gateun saram tto opseo~
“Yoboseyo~” “…..” “Ah, ye saya mengerti” Tit~ Donghae nampak menutup handphonenya.
“Kau mau tau jawaban dari semua pertanyaan yang ada di otakmu?” Tentu aku menjawabnya dengan anggukan. “Tanyakan sendiri pada Hyorin. Galgeyo aku mendapat telefon dari rumah sakit. Sampai jumpa Lee Sajang” Aku tersenyum dan melambaikan tanganku pada Donghae.
Benar juga jika aku menanyakannya pasti dia tidak keberatan menjawab semua pertanyaanku. Aku meraih jasku dan pergi meninggalkan kantorku untuk menemui Hyorin.
—-
Hyerin/Hyorin POV
Aku gelisah. Semua kegelisahanku mengenai identitas asliku sebagai Hyerin. Aku tak tau momen apapun yang telah dilalui Hyorin dan Eunhyuk oppa. Dan setiap aku mendengarkan momen yang sangat membahagiakan itu membuatku muak dan akan menangis karena orang yang aku cintai harus mencintai orang lain dan aku harus berpura-pura menjadi orang lain itu.
Aku lelah berpura-pura aku hanya ingin mengatakan kalau aku ini adalah Hyorin. Tapi aku lebih takut bila aku mengatakan yang sebenarnya Eunhyuk oppa akan marah dan tak mau bertemu denganku lagi.
Aku memandangi foto keluarga kecilku dulu dimana masih ada appa dan Hyorin. Sifat mereka berdua memang sangat mirip. Dan merekapun juga meninggal karena penyakit yang sama.
Semua lamunanku segera aku tepis. Sekarang yang aku inginkan hanya satu. Bagaimana cara agar aku bisa melepaskan semua ketakutanku ini. Aku harus mengaku atau terus berperan menjadi Hyorin dan ketahuan.
Eomma kini sudah tua dan sering bolak-balik ke rumah sakit. Sedangkan aku? Aku harus menjalankan semua amanat yang diberikan oleh Hyorin padaku.
Semua pikiranku buyar karena deringan handphoneku. “Yoboseyo?” “Ah, nona Park eommonim anda masuk rumah sakit karena pingsan. Bisakah anda datang ke rumah sakit sekarang?” Badanku terasa sangat lemas mendengar Kim ahjusshi meneleponku tadi. “Baiklah ahjusshi. Aku akan segera kesana”
Diperjalanan air mataku selalu menetes dan menetes. Aku tak adapat membendungnya lagi. Disaat-saat yang tak tepat eomma malah masuk rumah sakit.
—-
Saat aku sampai dilobi depan kamar eommaku. Eomma terlihat sangat pucat dan masih tak sadarkan diri. Seorang dokter datang menghampiriku. “Park agasshi. Eomma anda terkena serangan jantung tadi dan kami tidak menjamin jika sudah terkena komplikasi seperti ini keadaan pasien menjadi lebih lemah dan….” “Kesempatan hidupnya menjadi berkurang?” Dokter itu mengangguk.
“Kalau begitu kami permisi dulu masih banyak pasien yang harus kami tangani” Setelah dokter itu pergi aku langsung terduduk di lobi rumah sakit. Kenapa semua ini harus terjadi padaku. Oh Tuhan jadi inilah balasanmu padaku karena semua perlakuanku di masa lalu?
Saat air mataku sudah sangat deras handphoneku kembali berdering. “Yoboseyo?” aku jamin suaraku terdengar sangat parau. “Hyorin-ah.. Ada apa dengan suaramu? Apa kau sedang menangis? Apa yang terjadi?” Eunhyuk oppa mencercaku dengan berbagai pertanyaan.
“Aku….aku bagik-baik saja oppa. Hanya saja eomma masuk rumah sakit. Karena..” sebelum menyelesaikan kalimatku Eunhyuk oppa langsung memotongnya. “Baiklah oppa akan segera kesana. Tunggu oppa dan Uljima chagiya Saranghae” nadanya yang terdengar panik itu membuatlu sedikit tersenyum.
—-
Eunhyuk POV
Aku menancap gas mobilku menuju rumah sakit dimana eomma Hyorin dirawat. Kasihan Hyorin appanya sudah meninggal dan Hyerin? Ah aku belum menanyakan dimana Hyerin sekarang dan kenapa dia yang mengurusi eommanya? Bukannya dulu Hyerin yang melakukannya.
Aku berlari dan mendapati seorang yeoja masih dengan setelan kerja duduk di lobi. “HYORIN-ah” yeoja itu menoleh. Matanya masih sembap. “Bagaimana keadaan eommamu. Chagiya?” “Eomma masih belum sadarkan diri” Aku duduk disampingnya dan mengelus puncak kepalanya.
“Kau memang yeoja yang sangat baik. Hyorin-ah. Padahal dimasa lalu eommamu itu sering menyiksamu tapi sekarang kau masih saja mau merawatnya dan menangisinya saat dia sakit seperti ini”
Hyorin/Hyerin POV
Karena perkataan Eunhyuk oppa tadi aku kembali teringat pada masalah awalku. Masalah yang membuatku menjadi seperti ini. Hyorin-ah apa kau melihatku dari atas sana? Apa yang harus kulakukan sekarang bisakah kau kembali hidup dan menemani Eunhyuk oppa. Aku sudah tidak kuat lagi berpura-pura seperti ini.
“Hyorin-ah ayo kita pergi ke restaurant dekat sini. Apa kau sudah makan?” Aku menggeleng ringan. “Kalau begitu. Kajja” Eunhyuk oppa menarik tanganku.
Dan kini kami sudah sampai disebuah restaurant dekat rumah sakit. Dan Eunhyuk oppa sudah memesan banyak makanan dan minuman untukku. “Hyorin-ah kali ini makanlah yang banyak dan lupakan sebentar soal dietmu itu” Aku mengangguk dan melahap makan yang ada didepanku saat ini.
Eunhyuk POV
Dilihat dari wajahnya dia terlihat sangat tertekan lebih baik kuurungkan niatku untuk bertanya mengenai berbagai macam pertanyaan yang sekarang sedang berputar-putar diotakku.
Melihatnya makan dengan lahap akupun ikut menyantap makanan yang tadi aku pesan ini. Setelah aku dan Hyorin kenyang kamipun kembali ke rumah sakit aku melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 14.05.
“Mianhae. Hyorin-ah aku tidak bisa lama-lama bersamamu lebih lama lagi aku ada meeting di kantor setengah jam lagi. Mianhae chagiya. Saranghae” Aku masuk kemobilku dan mulai memacunya menuju kantorku.
“Sajangnim anda sudah datang” “Ah, iya. Kenapa nona Han?” “Ada seseorang yang sedang menunggu anda diruang tunggu tamu. “Nugu?” “Dia mengaku sebagai teman lama anda” “Namanya?” “Kalau tidak salah Tuan Kim Kibum Lee sajang” “Ah, baiklah. Terima kasih atas informasinya”
Kim Kibum nama itu kini berputar-putar dikepalaku. Kim Kibum yang mana ya kira-kira? Ada dua kim kibum yang kukenal. Yang satunya mantan adik kelasku dan yang satunya temanku sewaktu SMA.
Pertanyaanku sudah terjawab saat melihat wajahnya. Ternyata dia Kibum teman lamaku. “Hyung~ Aku tidak menyangka kau bisa menjadi sesukses ini” “Ah, kau benar. Aku memang sukses sekarang. Ada perlu apa kau datang kemari?” Wajahnya nampak bingung.
“Begini hyung. Setelah pulang dari Jepang aku merindukan sosok yeojaku apa kau tau dimana dia?” Tunggu sosok yeoja berarti yang dimaksudnya adalah ‘Hyerin’. Benar sebelum dia pindah ke Jepang dia sempat berpacaran dengan Hyerin tapi kemudian putus tanpa alasan yang jelas.
“Ah, jadi kau merindukan Hyerin?” Dia mengangguk malu. “Apa selama kau berada di Jepang tidak ada yeoja lain yang bisa meluluhkan hati esmu itu?” Dia menggeleng.
“Itu semua pasti karena tidak ada yeoja yang betah karena kebiasaanmu memacari Komputer itu” Dia tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku. “Lama tak jumpa kau masih tetap lucu hyung. Dan lagi kau bertambah tampan”
Sedang enak mengobrol bersama Kibum. Sekertarisku Nona Han datang. “Maaf menyela Lee Sajang. Tapi rapat akan segera dimulai dan klien tuan sudah datang” “Ah, baiklah kalau begitu aku akan segera ke ruang rapat” Sekertarisku itu kemudian pergi.
“Baiklah Kibum-ah aku akan mencoba bertanya pada Hyorin dimana keberadaan Hyerin. Aku ada rapat kalau begitu sampai jumpa lagi” Setelah berjabat tangan denganku Kibumpun pergi.

Lee Donghae POV
Aku terus memikirkan kata hyuk tadi tapi bukan mengenai masalahku tapi menganai Hyorin. Bukannya jika kau berubah pasti ada sifat lamamu yang tertinggal tapi hal ini tak berlaku pada Hyorin yang kami lihat sekarang.
Selain dia lebih cerewet dia juga menjadi tidak dapat berkelahi bahkan disaat-saat terdesak sekalipun. Akupun mengingat kejadian saat itu.
FLASHBACK ON~
Malam itu, aku sedang menyusuri jalanan gangnam untuk melakukan observasi wilayah yang sering terserang suatu penyakit dan aku mendengar suara jeritan dan bedebum yang sangat keras dari arah sebuah gang kecil diantara gedung yang menjulang.
Setelah aku ikuti arah suara itu samar-samar aku melihat seorang yeoja yang sedang dikeroyok oleh sekelompok namja mabuk. Setelah aku mendekat ternyata yeoja itu adalah Park Hyorin yeoja yang dulunya sangat suka berkelahi. Aku kira aku tidak akan dibutuhkan dalam situasi ini.
Tapi setelah aku lihat lagi ternyata yeoja itu sedang menangis dipojok gang yang buntu ini sambil mengibas-ngibaskan tasnya kearah sekelompok namja tadi.
Karena aku seorang namja akhirnya aku membantu Hyorin untuk mengusir sekelompok namja tadi. Biar beginipun aku mantan gangster. Dalam waktu 15 menitpun aku sudah bisa mengusir sekelompok namja tadi.
Setelah melawan para namja tadi aku mengantar Hyorin pulang kerumahnya. Dengan menyisakan tanda tanya besar di otakku.
FLASHBACK OFF~
Semua pertanyaan yang sedang kupikirkan buyar karena ketukan pintu. “Permisi, Lee euisa. Bisakah saya berkonsultasi pada euisa” ternyata dokter yeoja itu. “Bukannya pasienmu lebih banyak daripada aku?” jawabku ketus.
Dia menggembungkan pipinya. “Ya sudah kalau saya mengganggu euisa saya permisi dulu” dokter yeoja itupun pergi meninggalkan ruanganku. Dan salah satu pasien tetapku datang menghampiriku.
“Permisi euisa saya datang untuk check up” Silahkan berbaring saya akan memeriksa anda. “Euisa.. Kemarin saat euisa sedang keluar saya mencoba check up pada Shin euisa. Dia orang yang ramah dan lembut dia juga yang menyarankan saya kalau sedang hamil harus sering mendengarkan lagu. Bahkan dia menyanyikan satu lagu untuk saya”
Aku memutar bola mataku kesal. “Lalu kenapa nyonya tidak datang lagi ke euisa itu?” “Tadi aku sudah datang padanya tapi dia mengatakan kalau Lee euisa adalah euisa yang paling baik di rumah sakit ini jadi saya kembali datang pada euisa”
Aku tersenyum kemenangan. “Tentu saja dia baru masuk 1 bulan yang lalu dan masih kurang pengalaman” Pasien yang sedang kutangani ini lalu mengangguk dan tersenyum.
Malam harinya..
“Apa hari ini aku ada jadwal lembur?” “Ah, tidak Lee euisa. Hari ini euisa boleh langsung pulang” “Ah kalau begitu terima kasih” Aku berjalan menyusuri lobi rumah sakit dan mendengar suara yeoja yang sedang menyayi.
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
uri hamkkeramyeon we will never cry never never cry

Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
Heaven Heaven Heaven Heaven Heaven
yeongwonhi duriseo never gonna be alone
oh, so alone~

Permainan gitar yang cukup mengaggumkan untuk ukuran seorang yeoja. Setelah aku memandanginya lama yeoja itu berbalik dan mata kami bertemu. “Eh, Lee euisa?” sudah kuduga yeoja itu adalah Shin Jinmi euisa baru di rumah sakit ini.

“Apa Lee euisa sudah lama berdiri disini?” Aku menggeleng. Entah ada yang salah atau bagaiman adengan otakku ini tapi setelah kuperhatikan ternyata euisa baru ini cukup ‘Cantik’.

“YA~ Lee euisa… Lee Donghae-ssi… DONGHAE-ssi” teriakan Jinmi membangunkanku dari lamunanku. “Kenapa kau berteriak?” “Habis Lee euisa menatapku dengan wajah yang menakutkan tanpa berkedip” “Ah, mianhae. Apa kau ada lembur?” “Ah, aniyeo ini mau pulang” “Kalau begitu kajja” kamipun keluar rumah sakit bersama.

—-

Keesokan harinya..

Hyerin/Hyorin POV

“Hyerin-ah” suara serak eomma sudah mulai terdengar aku kaget dan langsung duduk dengan tegak setelah berbaring diatas sofa yang ada diruangan ini.
“Mianhae eomma telah membuatmu seperti ini” “Gwechanayo eomma dan jangan panggil aku Herin ditempat seperti ini nanti bisa-bisa ada yang tau kalau aku sedang menyamar”

“Ah, arraseo. Eomma…Eomma hanya ingin berpesan padamu jika eomma sudah menyusul appamu dan juga Hyorin eomma percaya kau akan melanjutkan hidupmu bahkan jika kau harus meninggalkan statusmu sebagai Hyorin”

Aku mengerenyitkan dahi. “Jangan bilang seperti itu eomma. Aku mohon. Apa eomma tega membiarkan anak eomma yang satu ini sendirian” Eomma hanya tersenyum juga perasaanku sangat tidak enak saat ini.

“Hyerin-ah jika eomma meninggal maukah kau memakamkan eomma disamping appa dan Hyorin?” Air mataku menetes dan aku menggeleng keras. “Eomma jika aku melakukan itu, Eunhyuk oppa akan tau jika….” “Sudahlah Hyerin-ah eomma tau kau tertekan dengan semua amanat yang diberikan oleh Hyorin. Kalau kau memang sudah tak kuat jangan dipaksakan Hyorin pasti akan mengerti keadaanmu. Biar bagaimanapun dia yeoja yang baik”

“Tapi eomma….” Air mataku yang mengalir bertambah deras. Aku berjalan mendekat ke ranjang eomma. Eomma mengelus rambutku. “Kau sudah banyak berusaha Hyerin-ah. Sudah saatnya kau menuruti kemauan hatimu” Aku mengangguk.

Tiba-tiba eomma memegangi dadanya. “EOMMA~ EOMMA~ BERTAHANLAH AKAN KUPANGGIL DOKTER” aku menekan-nekan bel yang ada disamping ranjang eomma dan dokter dan dua perawatpun masuk keruangan eomma.

Air mataku tumpah. Melihat orang ke-tiga yang mengalami seperti ini orang pertama adalah appa, yang kedua adalah Hyorin dan sekarang adalah eommaku. Orang yang sangat berarti dalam hidupku.

Alat elektrokardiograf yang mulanya masih menampakkan gejolak denyut jantung kini sudah lurus tanda berakhirnya nyawa eommaku. Kini eommaku telah menyusul appa dan Hyorin.

Aku menjerit sekuat sisa tenagaku. “EEEOOOOMMMMMAAAAA~” walau aku tau pasti jeritanku ini tak akan bisa mengembalikan nyawa eommaku aku tetap saja menjerit histeris tubuhku lemas bahkan berdiripun aku tak mampu. Aku terduduk disamping ranjang eommaku.

“Maafkan kami agashi komplikasi yang eomma anda derita sudah tidak bisa kami tangani” aku mengacuhkan ucapan dokter itu. Seseorang menarik tanganku dan mendudukkanku di sebuah bangku taman.

——

Kibum POV

Karena Eunhyuk hyung sedang repot dia menyuruhku untuk datang sendiri ke rumah sakit untuk bertanya mengenai Hyerin. Yeoja itu sudah membuat hidupku selama di Jepang tak cerah.

Dan kini aku berdiri didepan pintu kamar eommanya Hyorin plus Hyerin. Aku mendengar suara isakan. “Hyerin-ah jika eomma meninggal maukah kau memakamkan eomma disamping appa dan Hyorin?” aku kaget Hyerin? Bukannya yang sedang ada disini itu… Hyorin?

“Eomma jika aku melakukan itu, Eunhyuk oppa akan tau jika….” kata-kata it tertahan dan membuatku kesal. Kenapa? Kenapa jika dia melakukannya?

“Sudahlah Hyerin-ah eomma tau kau tertekan dengan semua amanat yang diberikan oleh Hyorin. Kalau kau memang sudah tak kuat jangan dipaksakan Hyorin pasti akan mengerti keadaanmu. Biar bagaimanapun dia yeoja yang baik” J..jadi yang selama ini bersama Eunhyuk hyung itu… ‘Hyerin’ dan Eunhyuk hyung sama sekali tak mengetahui itu?

“Tapi eomma….” aku masih bisa mendengar percakapan antara Hyerin dan eommanya. “Kau sudah banyak berusaha Hyerin-ah. Sudah saatnya kau menuruti kemauan hatimu” aku semakin bingung. Kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Dasar yeoja Pabo… Kenapa kau mengorbankan mimpimu demi ini semua

FLASHBACK ON~

“Hyerin-ah lihat oppa mempunyai dua tiket pertunjukkan drama musical. Kau mau menontonnya bersamakukan?” Biasanya jika dia mendengar pertunjukan drama musical Hyorin akan selalu lonjak girang tapi kali ini dia berwajah datar.
“Hyorin-ah apa kau tidak mau menonton Drama musical live ini bersamaku?” Dia menggeleng. “Oppa lebih baik kita putus. Kau tau aku sudah tak mencintaimu lagi. Dan juga kini ketertarikanku sudah berubah karena seseorang. Jadi aku mohon tinggalkan aku”

Aku tak mengerti dengan kata seseorang itu. “Katakan padaku kau hanya bercanda Hyerin-ah” “Aku tidak bercanda oppa.Aku sudah tidak mencintaimu dan juga aku sudah tidak tertarik menjadi seorang artis sekarang” setelah mengatakan itu dia pergi begitu saja.

FLASHBACK OFF~

Tiba-tiba lamunanku dibuyarkan oleh suara teriakan Hyerin dan bel tanda pasien sedang dalam keadaan darurat dan membutuhkan dokter. Karena ketakutanku akupun berlari ke ruangan perawat dan langsung menyuruh mereka ke ruangan dimana eomma Hyerin dan Hyorin dirawat.

Tanganku tak henti-hentinya bergetar. Melihat pemandangan yeoja yang kucintai menangis didepanku. Rasanya kakiku ini lumpuh sehingga tak bisa menawarkan dadaku atau mengelus kepalanya seperti dulu karena aku ingat kata-katanya yang menyuruhku pergi darinya.

Tak terasa cairan bening jatuh dipipiku. Aku mengusapnya tapi air itu tetap saja terus turun dan membasahi pipiku ini. Melihat yeoja yang kusanyangi meneriakkan kata eomma membuat hatiku semakin sakit.

Hyerin terduduk disamping ranjang eommanya. Dia sudah terlihat sangat frustasi. Aku segera menggelengkan kepalaku yang selalu mengingat kejadian beberapa tahun silam itu dan berhasil kakiku dapat bergerak aku segera menarik tangannya dari ruangan itu menuju taman rumah sakit ini.

Dia masih saja menangis dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku sungguh tidak kuat melihat pemandangan ini. Aku segera menarik kepalanya untuk bersandar didada bindangku.

Perlahan tangisannya sudah mulai reda. Dia mendongak dan langsung menjaga jarak denganku. Sudah kuduga semua ini akan terjadi setelah tangisannya reda.
“Oppa” dia membekap mulutnya dengan tangannya. “Sudahlah jangan menyembunyikan identitasmu lagi aku sudah tau semuanya. Dan juga jika kau masih ingin menangis dadaku ini masih bisa kupinjamkan”

“B…bagaimana oppa t..tau tentang semuanya?” tanyanya masih sesegukan karena habis menangis.

——

Hyerin/Hyorin POV

Aku tak dapat berkata-kata lagi dan air mataku kembali keluar akupun menangis didada bidang Kibum oppa lagi. Air mataku ini campuran antara tangisan kebahagiaan dan juga tangisan kesedihan karena eommaku.

Kibum oppa mengelus puncak kepalaku. “Inikah yang kau lakukan setelah aku pindah ke Jepang?” tanyanya dengan suara bergetar. Aku mengangguk lemas. “Aku bisa merasakan tekanan yang kau rasakan Hyerin-ah. Hentikan semua permainanmu ini. Aku tidak suka melihatmu tertekan”

Aku mengusap air mataku dan menatap mata Kibum oppa yang selalu dapat memberiku keteduhan. “Aku tidak bisa melihatmu seperti ini lagi. Kau yang mengaku atau aku yang akan mengatakan pada Eunhyuk hyung”

Kibum sudah berdiri. Aku menarik tangannya dan memeluknya. “Jangan oppa. Berikan aku kesempatan untuk berpikir tentang semua peran yang kumainkan selama ini” “Baiklah. Aku hanya tak kuat melihatmu seperti ini dan juga aku kasihan pada Eunhyuk hyung”

Aku tengah duduk disamping makam eomma. Keinginan eomma untuk dimakamkan disamping appa sudah Kupenuhi. Aku menatap makam keluargaku dengan tatapan sendu. Acara pemakaman sudah selesai sedari tadi dan Kibum oppa sudah berkali-kali mengajakku pulang tapi aku bersikukuh untuk tetap disini.

“Hyorin-ah!! Kajja” Akhirnya Kibum oppa menarik tanganku. Dan kami menuju mobil Kibum oppa. Diperjalanan air mataku terus menerus mengalir.

“Sudahlah Hyerin-ah~ Uljima… Nanti kalau kamu menangis seperti ini eommamu malah akan semakin menderita dilates sane. Belajarlah merelakan kepergian-nya” Kibum oppa mencoba menasehatiku.

“Tapi oppa… Aku aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku menyesal telah membuat Hyorin seperti itu aku menyesal telah menyia-nyiakan waktu bersama appa aku menyesal tidak merawat eomma dengan baik aku menyesal….”

Setelah semua ini Kibum oppa menyetir dalam keheningan dan pikiranku mengenai semua hal masih berkecamuk dalam otakku. Aku sudah sampai dirumahku dan menelepon nomor sekertarisku.

“Yoboseyo…”

“Nona Kim besok dan beberapa hari kedepan saya tidak dapat ke kantor jadi tolong atur semua jadwal saya dan nanti akan ada orang yang menggantikan saya”

“Baik Park sajang”

TIT~

Aku merebahkan badanku dan menatap wallpaper handphoneku yang mudah berubah ubah. “Eomma apa aku harus mengakuinya? Tapi… Aku masih sangat mencintai Eunhyuk oppa”

Eunhyuk POV

Hari ini aku akna membuat kejutan untuk Hyorin. Aku sudah sampai dikantornya. Dan saat aku akan masuk sekertarisnya mencegahku.

“Permisi tuan Lee. Direktur Lee sedang tidak masuk hari ini. Saya kira dia masih sedih. Jadi anda bisa meneleponnya saja” “Bagaimana dia tidak masuk bukannya kantor sangat membutuhkannya?” “Ah, sial pekerjaan kantor sudah ada yang menggantikannya”

Dengan lesu aku berjalan meninggalkan kantor ini. Padahal aku tadi sudah cepat-cepat pulang dari rapat. Kenapa malah enggak ada Hyorinnya? Aku mendengar percakapan antara dua pegawai dikantor Hyorin.

“Kau tau? Katanya kemarin eommanya direktur Lee baru saja meninggal makannya sekarang direktur masih sedih dan tertekan makannya dia tidak masuk kantor” Aku membuang kotak yang sedari tadi kubawa dan langsung berlari meninggalkan kantor Hyorin.

Banyak yang kupikirkan dalam perjalanan. Kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa terjadi atau dilakukan oleh Hyorin. Aku sudah sampai didepan rumah Hyorin. Rumahnya sangat sepi.

Aku memasuki halaman rumahnya dan menekan bel rumahnya berkali-kali. Tidak ada jawaban. Kenapa tidak ada orang mungkin dia sedang tidak mau diganggu.

Saat keluar aku bertemu dengan Kibum. “H..hyung” Mungkin dia tau sesuatu. “Bagaimana kau sudah bertemu dengan Hyerin?” Dia mengangguk. Kalau dia sudah bertemu denan Hyerin berarti dia tau makam eommanya Hyorin dan Hyerin.

“Apa kau tau dimana makam eomma Hyerin?” “Aku tau hyung. Kenapa kemarin hyung tidak datang ke pemakaman?” “Ah soal itu, aku sedang berada di China ada banyak urusan perusahaan yang harus kuselesaikan disana” Wajahnya menampakkan keresahan. “Jadi?? Mau mengantarkukan?” “Baiklah hyung. Naik mobilku saja ya”

Kibum POV

Aku terus memikirkan semua yang telah dilakukan oleh Hyerin. Bagaimana kalau Eunhyuk hyung tau makam Hyorin. “Kibum-ah apa kau tidak mau turun?” “Ah, ne”

Dan dugaanku benar Eunhyuk hyung melihat nama Hyorin dibatu nisan samping makam eomma Hyorin. Matanya sempat menitikkan air mata dan mengusapnya. Dia menggelengkan kepalanya. “Kajja Kibum-ah” Tak biasanya juga Eunhyuk hyung berjalan dengan cepat mendahuluiku.

“Boomie apa nama Hyorin itu pasaran ya?” Mulutku tak dapat berkata-kata disatu sisi aku hanya ingin membantu Eunhyuk hyung mengetahui kedok asli Hyerin tapi disisi lain Hyerin sedang dalam suasana hati yang kurang baik.

“Boomie jawab aku” “Aku kira nama kembar didorea itu merupakan kejadian yang biasa misalnya nama Jonghyun. Nama itu begitu pasaran bahkan namaku ‘Kim Kibumpun juga banyak yang mengembari contohnya saja Kim Kibum Shinee’” aku emncoba menunjukkan senyumku pada Eunhyuk hyung. “Kau benar”

Setelah melihat mobil Eunhyuk hyung pergi aku segera menekan-nekan bel dan keluarlah Hyerin dengan wajah yang nampak sangat lelah.

“Apa kau sengaja tak membuakakan pintu pada Eunhyuk hyung?” “Aku tidak mau Eunhyuk oppa melihat keadaanku yang seperti ini. Apa yang harus aku lakukan oppa?” “Lakukan apa yang kau anggap benar. Mian waktu itu aku sudah memaksamu” “Gwechanayo oppa. Mungkin kau benar. Aku akan mencobanya” Aku mengelus puncak kepalanya.

Donghae POV

Setelah kejadian semalam aku dan Jinmi semakin dekat ternyata dia adalah anak dari seorang dokter terkenal. Makannya dia sangat ingin seperti appanya.

“Lee euisa apa kau hari inia ada banyak acara?” “Aniya. Waeyo?” ‘Tidak hanya saja appaku ingin bertemu dengan Lee euisa dan mengajak Lee euisa untuk makan malam bersama dirumah kami” “Dengan senang hati aku akan datang” Jinmi tersenyum senang mendengar jawabannku. “Khamsahamnida Lee euisa”

Aku kembali ke ruanganku dan mengecek beberapa data tentang pasien-pasienku.

BRRRRAAAKKK~

Eunhyuk datang dengan wajah tak enak. “YA~ Ada apa denganmu? Tenangkan dirimu” Eunhyuk langsung tidur di tempat tidur pasien tanpa mengatakan apapun. Setelah menutup pintu aku mendekatinya.

Aku melihat air matanya mengalir dari matanya. “Ada apa denganmu? Ceritalah. Aku akan mencoba untuk membantu” “Berapa persen kemungkinan hidup untuk orang yang terkena penyakit Leukimia?” hanya pertanyaan itu yang ekluar dari mulutnya.

“Sangat kecil bahkan hampir tidak ada” Dia langsung duduk. “Apa nama Hyorin itu sangat pasaran? Bahkan tanggal lahirnyapun sama” “Hyorin siapa maksudmu?” “Tentu saja yeojachinguku” “Aku pernah bertanya padanya katanya dia berhasil sembuh karena donoran sunsum tulang belakang dan itu bisa saja terjadi” Eunhyk mengusap air matanya. “Jadi semua pikiranku menganai Hyorin salahkan?” Aku mencoba menghiburnya dengan menganggukkan kepalaku.

“Lain kali jangan membuat suatu pemikiran bodoh. Tanyakan dulu padaku” “Baiklah aku akui sekarang
kau lebih dewasa dariku” “Jadi? Apa kau mau kukenalkan dengan Jinmi?” “Jinmi?” setelah semua tindakannya tadi kini wajahnya berubah menjada wajah mengejek.

“Jangan bilang itu euisa baru yang kau ceritakan waktu itu” Aku mengangguk. “Kami… sudah berteman sekarang” senyum menggodanya masih terlihat jelas diwajahnya. “Aku penasaran dengan wajahnya, Kajja tunjukkan aku orangnya”

Malah dia yang menarikku. “Yang mana ruangannya?” aku menunjuk suatu ruangan yang bertulisakan Shin Jinmi. Belum sempat aku mengetuk yang punya ruangan sudah nongol.

“Eh, Lee euisa? Ehmm… Kenapa berdiri didepan ruanganku?” Eunhyuk langsung memujinya. “Huahh,,, salam kenal Jinmi-ssi saya ..” “Lee Hyukjae pemilik Lee Coorporation? Benar bukan?” Eunhyuk tersenyum malu. “Anda sangat canti Jinmi-ssi sehingga membuat salah satu temanku terpesona dengan anda” “Benarkah?” Matanya melebar sebelum pembicaraan ini menjadi lebih jauh aku segera menginjak kaki Eunhyuk.

“Ah, mianhae Shin Euisa saya permisi dulu. Annyeonghaseyo” “YA~ Donghae-ah kenapa malah menginjak kakiku katanya kau mau mengenalkanku pada Jinmi itu” “Menganalkan bukan berarti bercerita yang macam-macam” “Baiklah aku rasa perasaanku sudah membaik. Apa kau nanti malam ada acara?” “Ada aku ingin makan malam bersama appanya Jinmi apa kau mau ikut?” “Boleh?” “Tentu saja boleh. Aku takut jika kau nanti akan melakukan hal yang diluar dugaanku jika aku tidak membolehkanmu atau membiarkanmu pergi sendirian”

Eunhyuk tersenyum. “Kau memang sahabatku Donghae-ah. Baiklah jam 6 kita berangkat bersama dari rumahmu ya Annyeong” Dasar Kunyuk.

Eunhyuk POV

Malam ini aku dan Donghae menghadiri acara makan malam bersama keluarga Shin. Harus aku akui kata-kata Donghae tadi siang benar. Setelah pulang perasaanku menjadi kacau bahkan saat aku melihat pisau dapurpun aku ingin seklai menggorok leher ini dengan pisau itu.

“Jadi? Jinmi-ah namja-namja tampan didepan appa ini temanmu?” “Tidak semuanya appa Jinmi hanya berteman dengan Donghae oppa sedangkan Hyukjae oppa itu temannya Donghae oppa” “Baiklah. Appa mengerti”

“Berapa umur kalian?” Aku menjawab dengan senyum. “Saya berumur 27 tahun” Donghaepun juga ikut menjawab “Saya 26 tahun” “Ah, umur kalian mengingatkanku pada seorang pasienku yang sangat kusayangi dan satu-satunya yang gagal kutangani” Wajah Shin ahjusshi langsung berubah.

“Dia yeoja yang terbilang sangat baik dan juga sangat kuat. Aku suka melihatnya tersenyum padaku walaupun dengan orang lain dia menunjukkan wajah dinginnya” “Appa~” Jinmi menatap sedih kearah appanya. Aku tak mengerti.

“Setiap hari aku menemaninya mencuci darahnya. Kau tau prosedur cuci darah itu sangat menakutkan. Tapi yang dia tunjukkan hanyalah senyuman” Shin ahjusshi hanya menggelengkan kepalanya. “Ah, aku malah bercerita. Sekarang silahkan makan hidangannya” Aku menikmati setiap hidangan yang ada dimeja makan ini.

Donghae POV

Setelah makan kami diajak untuk mengobrol diruang keluarga. Shin ahjusshi menceritakan banyak pengalamannya yang lucu. Aku senang melihat Shin ahjusshi. Aku jadi merindukan sosok appaku.

“Baiklah, aku rasa aku sudah bercerita banyak tentang pengalamanku sekarang giliran kalian yang bercerita” Karena aku termasuk namja yang pendiam jadilah aku diam saja.

Eunhyuk tanpa ragu memecahkan suasana canggung ini. “Ahjusshi, Aku itu dulu sewaktu SMA merupakan namja yang sangat bandel juga tergolong bodoh. Tapi aku menyukai seorang yeoja yang telah mengubahkan menjadi seprti ini”

“WAH~ Kau sangat beruntung Hyukjae-ssi. Sekarang kau telah menjadi namja yang tampan dan sukses” dengan wajah bangga Eunhyuk tersenyum. “Memangnya dulu kau bersekolah dimana?” “SM High School ahjusshi aku masuk kesana saja karena dulu aku pernah memenangkan sebuah kompetisi menari”

Aku sempat melihat wajah Shin ahjusshi berubah muram. “Apa kau sering mendapat nilai 0 dalam pelajaran Bahasa Inggris?” “Huahhh, ternyata ahjushhi punya kemampuan untuk membaca pikiran orang ya”

BAM BABAM BAM BAM~

Eunhyuk permisi untuk mengangkat teleponnya dan kembali setelah beberapa menit. “Ah, saya pamit pulang dulu Shin ahjusshi terima kasih atas hidangannya tadi. Annyeonghaseyo”
Kini yang tersisa hanya aku. “Donghae-ssi apa nama panggilan Hyukjae-ssi saat SMA Eunhyuk?” Aku kaget dan mengangguk sebagai reflek. “Ternyata dugaanku benar. Apa kalian dulu satu genk dan apa genk kalian dulu sangat suka berkelahi?” “B..bagaimana anda tau?”

Shin ahjussi menghela nafasnya panjang. “Terus terang saja aku tidak pernah mengira kalau Korea itu sempit. Apa kau mengenal yeoja yang bernama Park Hyorin?” “Tentu saja dia teman kami” Wajah Shin ahjusshi berubah serius. “Hyorin-ah mianhae. Kau harus ingat rahasiamu tak selamanya bisa kutahan sudah saatnya mereka tau” aku tak mengerti apa yang dikatakan mengenai Hyorin tadi.

“Sebenarnya pasien yang kuceritakan tadi adalah Hyorin” seketika itu juga wajahku berubah pucat. Ternyata dugaan Eunhyuk mengenai yeoja yang bersamanya itu benar. “Lalu? Apa diantara kalian ada yang tau mengenai ini?” Aku menggeleng.

“S..sebenarnya Eunhyuk sudah menyadari perbedaan sikapnya yang sangat menonjol tapi aku rasa Eunhyuk mencoba menahannya dan tetap mencoba meyakinkan dirinya kalau..” “Hyerin adalah Hyorin” Aku kembali mengangguk.

“Lalu apa Hyerin mencintai Eunhyuk, Hae-ssi?” “Saya rasa dia mencintai Eunhyuk dan dulu dia pernah berpacaran dengan namja dan memutuskannya karena Eunhyuk” Shin ahjussi mengangguk.

“Lalu apa Eunhyuk mencintai Hyerin?” Aku menggeleng “Saya rasa tidak Eunhyuk hanya mencintai Hyorin dan dia melihat Hyerin sebagai Hyorin jadi dia memperlakukannya seperti kekasihnya”

“Ah, aku sudah tidak betah memikirkan semua permasalahan Hyorin. Aku tidak berhak ikut campur dalam permasalahan mereka. Hanya Hyerin dan Eunhyuklah yang bisa menyelesaikannya” Aku mengangguk mantap.

—-

Eunhyuk POV

Aku melakukan semua pekerjaanku semuanya bahkan aku yang biasanya hanya menyerahkan mengecek ataupun menandatangani kini aku terjun langsung kelapangan mengawasi semua pegawaiku. Aku melakukan semua ini untuk melampiaskan perasaan yang mengganjal dalam hatiku.

Tak bisa kupungkiri kalau aku memang sudah tau kalau Hyorin yang sekarang jauh berbeda dengan Hyorin bahkan terlampau berbeda untuk menjadi satu orang. Aku hanya bisa meyakinkan hatiku kalau logisku itu salah. Aku salah.

Aku berjalan gontai dan memasuki kamarku dengan wajah yang kurasa berantakan. Kututup pintu kamarku dan terlelap kealam mimpi.

——

Saat kubuka mataku, kupandangi sekeliling dan melihat Donghae sedang berada disisiku.

“Hae-ah? Kenapa kau disini” Air matanya menitik. Aku bingung. Apa yang terjadi pada namja cengeng ini? “Hae-ah. Katakan padaku kenapa kau menangis”

“Mianhae..Mianhae… Aku benci diriku yang tau segalanya” hanya sederet kata itu yang terucap dari sahabat dekatku ini.

“Apa maksudmu~ Aku tak mengerti” Donghae masih kalut bahkan air mata yang mengalir dari pipinya semakin deras. “YA~ KATAKAN PADAKU”

Akhirnya Donghae menghapus air matanya dan duduk disampingku. “Aku… Aku sudah tau jawaban dari semua teka-teki Hyerin dan Hyorin. Aku sudah tau”
Donghae mulai menceritakan semuanya dari awal hingga akhir sambil menangis.

DEG~

—-

Hyorin/Hyerin POV

Aku tak bisa tenang kini aku sedang dalam perjalanan menuju apartemen Eunhyuk oppa. Kibum oppa tidak main-main dengan perkataannya dia sudah memberitahukannya pada Donghae oppa.

Semoga aku belum terlambat. Diparkiran gedung mataku menyapu seluruh mobil dan melihat mobil Donghae oppa. Jantung berpacu dengan cepat dan dadaku sesak air mataku tumpah.

Tapi aku masih kua berlari menuju lift dan berlari kembali menuju apartemen Eunhyuk oppa. Aku terus berlari sambil menangis.
Baru kemarin Kibum oppa mengatakan kalau dia tidak memaksakau tapi sekarang nyatanya dia malah memberitahu Donghae oppa.

Sampai. Aku menekan-nekan bel dari luar. Dan benar saja Eunhyuk oppa dengan mata yang merah membuka pintunya dia menarikku kedalam dan menyuruhku duduk dengan kasar.

“APA YANG KAU RAHASIAKAN CEPAT KATAKAN PADAKU” katanya dengan penuh penekanan disetiap katanya. “M..mianhae op..oppa.. Ak..aku hanya menjalankan apa yang dikatakan oleh Hyorin” aku memberanikan diri menatap mata Eunhyuk oppa yang nanar.

“Mianhae.. Mianhae oppa. Apa oppa masih mencintaiku walaupun aku bukan Hyorin” Dia menatapku garang dan berteriak. “PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA” Donghae oppa menarik tanganku untuk keluar dari apartemen milik Eunhyuk oppa.
—–

“Hyerin-ssi.. Paboya. Kenapa kau mau melakukan semua sandiwara ini? Apa kau tidak tau apa yang dibenci oleh Eunhyuk?” Aku menggeleng. “Dibohongi dan kau telah melakukannya” Air mataku terus menetes tanpa bisa berhenti.

“Sekarang pulanglah dan jangan coba-coba menemui Eunhyuk lagi” aku menyalakan mesin mobilku dan menancap gas menuju makam Hyorin, eomma dan appa.

—–

Kibum POV

Tadi aku kerumah sakit hanya ingin bertemu dengan Hae Hyung tapi mulutku ini sudah sangat tidak bisa kukontrol ini semu karena aku masih sangat mencintai Hyerin dan aku tidak ingin siapapun memilikinya.

Jadilah seperti ini kini aku sedang mengelilingi kota Seoul untuk mencari Hyerin. Aku sudah tak dapat mengenali kepribadianku lagi karena mencintai Hyerin.

Aku sampai dimakam keluarga Hyerin dan melihat Hyerin sedang duduk dan memegangi sebuah pisau. Tunggu dulu, pisau.

Aku berlari dan berteriak pada Hyerin tapi dia tidak menggubrisku sama sekali. Dia masih saja memegang pisau itu dan sepertinya akan menghunuskan pisaunya keperutnya.

“Tidak bisakah aku menyusul kalian?” itu kata terakhir yang diucapkannya sebelum dia benar-benar menghunuskan pisau itu keperutnya.

“ANDWEEE~” aku berlari dan segera menggendongnya menuju mobil. Kupacu mobilku menuju rumah sakit aku melihat darah yang keluar dari perutnya sudah sangat banyak.

—-

“Mianhamnida tuan anda harus menunggu didepan” “Ye~”

Aku menunggu didepan ruangan ini sangat lama dan ini semua membuat jantungku terus berpacu. “Kibum-ah No jeongmal Paboya” aku memukul kepalaku.

Dokter telah keluar dari ruangannya. “Permisi, apa andan keluarga pasien?” “Ye.. Saya kakaknya” “Ah, apa golongan darah kalian sama? Pasien ini sangat membutuhkan donor darah karena darah yang keluar akibat tusukan tadi sangat banyak”

FLASHBACK ON~

“Oppa!! Kau sangat tampan jika dilihat dari dekat” Hyerin mendekatkan wajahnya kewajahku. “Benarkah? Setampan itukah?” Hyerin mengangguk mendengar kata-kataku.

“Oppa~ Kenapa kau hanya tersenyum padaku dan bersikap dingin pada yang lainnya?” “Itu semua karena senyumku milikmu dan selamanya hanya milikmu. Makannya jangan meninggalkanku karena jika kau meninggalkanku aku akna benar-benar kehilangan senyumku”
“Ne~ Oppa!! Oppa apa golongan darahmu?” “A. Waeyo?” “Aniyeo. Ternyata folongan darahmu sama sepertiku. Nanti kalau salah satu diantara kita ada yang membutuhkan donor darah. Kita akan saling berbagi ya!!”

Aku berfikir. “Yakso” kami menautkan jari kelingking kami tanda janji.

FLASHBACK OFF~

“Ye~ Euisa golongan darah kami sama. Jadi tolong ambil darah saya untuknya” “Baiklah kalau begitu masuklah keruang sebelah sana dan bersiaplah” Aku mengangguk dan menuju keruang yang ditunjukkan oleh euisa tadi.

—-

Euhyuk POV

Pikiranku kalut, hatiku remuk, jiwaku terhempas, aku sudah tak mampu lagi untuk hidup. Dia…. Dia yang kucintai dengan sepenuh hatiku telah pergi meninggalkanku. Dan aku? Aku baru mengetahuinya beberapa jam yang lalu.

“WAE~ WAE~” aku menarik rambutku frustasi. “Kenapa semua ini harus terjadi padaku Tuhan. Kenapa? Kenapa?”

—-

Pagi harinya…..

TIT…TIT..TIT…

“Yoboseyo?” aku mengangkat teleponku dengan suara yang parau karena semalaman aku telah menangis meratapi nasibku.

“Lee sajangnim. Apa anda hari ini masuk kantor? Suara anda sungguh terdengar buruk”

“Ah, Miryo-ssi. Sepertinya hari ini saya tidak dapat masuk kantor karena saya sedang sakit dan butuh banyak istirahat, Jadi tolong atur semua jadwal saya hari ini ya Miryo-ssi”

“Ah, ye. Lee Sajangnim”

“Ye~ Khamsahamnida”

Aku kembali melanjutkan tidurku.
—-
Author POV

@Mimpi Eunhyuk

“Dimana aku? Apa aku sudah meninggal? Tempat apa ini? Kenapa begitu indah?” Eunhyuk terus bertanya pada dirinya. Tapi tiba-tiba matanya menangkap sosok yeoja yang sangat dikenalinya dengan senyuman berlesung pipi yang ditujukan padanya.

“Nuguya? Hyorin? Hyerin?” Eunhyk masih belum yakin karena dia pernah tertipu oleh kemiripan mereka.

“Aku Hyorin. Paboya” jawabnya dingin. Eunhyuk tertawa dan berhambur memeluk Hyorin. “Apa ini nyata? Apa kau belum meninggal Hyorin-ah?” Pundaknya tersa basah.

“Mianhae!!” Eunhyuk melepaskan pelukannya. “Kenapa kau meminta maaf” “Mianhae karena sudah mengecewakanmu, mianhae karena sudah meninggalkanmu untuk selamanya dan mianhae karena sudah membuatmu seperti ini”

“Uljima~ Kau belum meninggal buktinya kau ada disini bersamaku ditempat indah ini” Hyorin mengubah wajahnya menjadi dingin. “Kau benar-benar Hyorinku. Hyorinku telah kembali” Eunhyuk kembali memeluk Hyorin.

“YA~ Paboya.. Aku sudah meninggal dan tidak akan hidup lagi. Jadi?” “Sudahlah yang penting sekarang aku sedang bertemu denganmu”

Untuk sementara waktu Eunhyuk dan Hyorin menikmati pelukan mereka. “Hyorin-ah ada satu kata yang belum sempat aku ucapkan padamu” “Mwo?” “Saranghanda Hyorin-ah” “Arra” “Nan No Joahae” “Arraseo”

“Jadi?” “Nado. Hajiman… Dunia kita sudah berbeda. Carilah yeoja lain dan tolong jaga Hyerin untukku. Jika kau benar-benar mencintaiku maka kau akan melakukan apapun untukku. Mianhae!! Aku harus pergi”

“HYORIN-AH~ HYORIN-AH~ KAJIMA~ KAJIMA~ DORAWA~” Eunhyuk menangis ditempatnya dan hanya bisa berkata ‘Kajima~ Dorawa~’.
—–

Eunhyuk terjaga dari tidurnya pipinya basah. Mulutnya tak henti-hentinya menyebutkan kata ‘Kajima’. Eunhyuk sadar kalau yang dia temui dalam mimpinya itu benar-benar Hyorin.

“Kau jahat Hyorin-ah. Wae? Kenapa kau meninggalkanku? Baiklah aku bisa melakukan apa yang kau katakan mengenai menjaga Hyerin tapi aku tidak yakin bisa untuk mencari yeoja lain”

—-

Donghae POV

“Mianhae… Apa kau berasal dari Mokpo?” “Ah, benar . Waeyo?” “Any.. Hanya saja… Apa kau tidak mengingatku sama sekali?” Aku memag tidak ingat sama sekali mengenai Jinmi. Karena aku merasa kalau kita baru saja bertemu.

“Mian.. Nuguya? Aku tidak dapat mengingat apapun” Tampak semburat kesedihan diwajahnya. “Aku baru sadar kalau kau adalah Fishy oppaku”

DEG~

Fishy oppa? Bukannya nama itu hanya diucapkan oleh seorang yeoja kecil yang kupangil Panda saat aku masih tinggal di Mokpo dulu?

FLASHBACK ON~

“Fishy oppa apa kau harus pindah ke Seoul?” Aku mengangguk “Aku harus Panda-ya. Mianhae” “Lalu Fishy oppa.. Aku nanti bermain bersama siapa? Taman inikan luas” “Carilah teman yang lain. Panda-ya”

“HHHHOOOOAAAA~” Aku langsung memeluk Pandaku. “Uljima.. Panda-ya” “Oppa jahat. Oppa tidak akan pernah mengunjungiku ke Mokpo lagikan?” “Aku akan mencobanya. Berkunjung kesini. Jadi jangan menangis ya… Uljima~”

Pandaku berhenti menangis dan menatapku dengan matanya yang besar dan bulat. “Jinja? Oppa berjanji?” “Ne~ Yakso”

FLASHBACK OFF~

——
“P..Panda-ya?” “Ehm~” aku menarik pipinya. “Apo oppa-ya~” “Kenapa selama ini kau bersikap seperti seorang yang dewasa.. Akukan jadi tidak mengenalimu” “Akukan memang sudah dewasa oppa. Umurku saja sudah 23 tahun” “Aku tidak peduli” Aku memeluknya.

“YA~ Bogoshiposeo Panda-ya” “Nado Fishy oppa” “Kenapa aku tidak tau kalau appamu seorang dokter?” “Ah, igeo. Aku di Mokpokan bersama Halmoni dan Harabojiku oppa. Apa kau tak ingat” “Aku mengingatnya hanya saja kenapa aku tidak pernaha menanyakannya dulu” “Itusih kau yang pabo oppa-ya”

“Oh,iya Fishy oppa. Bagaimana keadaan Eunhyuk oppa setelah kau memberitahunya?” “Dia mengamuk bahkan aku saja tak berani menemuinya diapartementnya” “Ah, Memangnya kau tidak percaya omongan appaku hingga kau baru mengatakannya besoknya?” “Aku memang kurang percaya”

“Ya~ Pandaya kau terlihat sangat cantik ya jika sudah besar?” “Arrasseo akukan dari dulu sudah cantik” “Siapa yang bilang dulu kau itu sangat gendut dan mempunyai mata yang besar sangat mirip dengan Panda” “Cih~ Oppa juga sangat kurus dan jika sedang melongo mirip ikan” Panda menjulurkan lidahnya.

“Sudahlah yang penting sekarang kita bertemu kembali” “Kau tau oppa ,,, Setelah kau pindah ke Seoul appa juga meneleponku untuk pindah ke Seoul juga tapi kenyataannya aku baru bertemu denganmu sekarang” Aku tersenyum “Mungkin belum takdir”

—–

“Yoboseyo?”

“………………”

“Ah, Eunhyuk-ah”

“MWOGA? Apa kau yakin.. Sipakan mentalmu jangan sampai kau meledak- ledak seperti kemarin”

“………”

TIT~

Eunhyuk POV

Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah Hyerin. Yah!! Setelah mimpiku tadi siang aku merenungkan semuanya dan aku sudah bisa memaafkan Hyerin. Aku ingin meminta maaf padanya juga. Mulai sekarang dia boleh bebas untuk memilih namja lain untuk mendampinginya tapi aku akan tetap mengawasinya seperti dongsaeng bukan pacarku.

—–

Aku memencet bel didepan rumah Hyerin. Pintunyapun terbuka tapi yang membuka pintu itu adalah Kibum.

“Kibum-ah. Kenapa kau ada disini?” “Ah… Aku.. sedang… sedang mengambil beberapa baju untuk Hyerin” “Hyung sendiri?” “Aku ingin menemui Hyerin. Memangnya Hyerin kemana sehingga kau harus membawakannya baju?” “Dia…Dia masuk rumah sakit hyung karena percobaan bunuh dirinya” “MWO?”

Kibum menunduk. “Antar aku kerumah sakit sekarang” “Baiklah hyung”

—–

Dalam perjalanan aku sangat merasa bersalah atas perlakuanku padanya kemarin dan aku juga tau kalau Hyerin itu sangatlah rapuh karena sejak kecil dia tidak pernah dibentak sekeras itu.

“Dia sudah berubah. Dan kenapa aku melakukan ini padanya kemarin? Paboya” Mobil Kibum berhenti disebuah rumah sakit di Seoul.

Setelah turun dia menunjukkan dimana kamar Hyerin. “Hyung~ Apa jika kau sudah tau kalau Hyorin itu Hyerin kau masih mencintainya?” Aku mengrenyitkan dahiku. “Aku malah ingin memintamu untuk menjaga Hyerin. Kau tau sendiri aku sangat mencintai Hyorin dan tidak akan berpaling pada yeoja lain”

Kibum tersenyum. “Mungkin kau bisa dengan mudah melupakan kenangan-kenangan Hyerin bersamamu selama dia menyamar menjadi Hyorin tapi Hyerin tidak” Aku bertambah bingung. “Dia mencintaimu hyung. Dan aku baru sadar kalau dulu dia memutuskanku karenamu” Aku menatap mata Kibum yang kini sudah merah. “Aku akan mencoba berbicara dengannya”.

—–
Hyerin POV

Aku sadar dan melihat sekelilingku yang dominan dengan warna putih. Apa aku sudah meninggal? Aku kembali mengerjapkan mataku dan melihat Eunhyuk oppa sedang tersenyum kearahku.

“Eunhyuk oppa?” ucapku lemah. “Hyerin-ah” ucapnya lembut apa dia sudah tidak marah lagi padaku? “Apa oppa sudah tidak marah padaku?” Eunhyuk oppa menggeleng.

“Hyerin-ah aku tau kau mencintaiku tapi kau tau hanya mencintai Hyorin maka cobalah perbaiki hubunganmu dengan Kibum” anehnya saat oppa mengatakan ini hatiku bukannya remuk tapi malah lega.

“Ehm… Khamsahamnida oppa…” “Aku lega. Aku kira kau akan semakin kacau” “Itu jika kau mengatakannya sebelum Kibum oppa datang” aku tersenyum malu-malu karena melihat Kibum oppa tengah berdiri di samping Eunhyuk oppa.

“Tapi Hyerin-ah.. Aku akan menganggapmu sebagai dongsaengku jadi kau masih dalam pengawasanku jadi? Jika Kibum menyakitimu atau kau sedang ada masalah maka kau bisa datang padaku. Aku akan mendengarkan semua masalahmu dan memberi solusi untuk masalahmu jika aku bisa”

Aku senang mendengar kata-kata Eunhyuk oppa. “Ah, Hyuk oppa. Mianhae atas semua kelakuanku” Dia tersenyum. “Aku sudah memaafkannya dan aku harap kau tidak akan melakukan hal bodoh lagi ya” Aku mengangguk.

——

Setelah Eunhyuk oppa pergi Kibum oppa mendekat keranjangku dan bertanya. “Apa benar-kata-katamu tadi? Apa kau menyesal memutuskanku dulu?” Aku mengangguk dan tersenyum malu-malu. “Aku senang mendengarnya. Saranghae Hyerin-ah”

“Nado oppa. Mianhae karena telah mengecewakanmu. Selama ini aku tidak sadar kalau ada seseorang yang selalu ada untukku, menungguku, dan tidak pernah sedetikpun tidak memikirkanku. Dan orang itu adalah kau oppa”

—–

Beberapa bulan kemudian…..

Eunhyuk POV

Aku menatap undangan ditanganku. “Kalian.. Tega sekali meninggalkanku” Tapi kali ini nadaku malah terdengar lucu.

Beberapa bulan telah berlalu teman-temanku semua sudah menikah bahkan magnae kedua kami Kim Kibum juga Donghae, juga akan menikah sebentar lagi. Aku tersenyum-senyum sendiri saat ini.

Hidupku sudah jauh lebih baik sekarang aku selalu mengunjungi makam Hyorin dengan senyum. Aku rutin mengunjunginya. Pada saat aku mendapatkan moment-moment penting aku akan bercerita padanya dimakam Hyorin dan pada saat aku sedihpun aku juga berkeluh kesah dan menumpahkan semua kekesalanku dengan bercerita di makam Hyorin.

Aku tau sudah saatnya aku mencari penggantinya tapi aku tak bisa. Setiap yeoja yang akan kutemui sebagai calon yeojachinguku pasti dimataku terlihat seperti Hyorin.

Aku tidak mau ada Hyerin Hyerin yang lain yang akan tersakiti karena aku tidak mencintai mereka karena diri mereka tapi karena aku memandang mereka seperti Hyorin. Aku sudah cukup puas hanya dengan memimpikan Hyorin atau mendatangi makamnya.

@Pernikahan Kibum

“Huaahh~ Kibum-ah Finally kau menikah juga. Aku turut senang atas pernikahan kalian. Chukkae~ Kibum-ah jaga Hyerin baik-baik juga buat keponakan yang banyak ya untukku” Wajah mereka berdua memerah seketika.

Aku meresakan sakit dikepalaku. “YA~ Hyukie jangan racuni Kibum dengan pikiran yadongmu itu.. Aigooo~” Aku mengerucutkan bibirku dan menatap Leeteuk hyung dengan kesal. “Ye…Ye…Ye… Algesseoyo hyung”

Melihat mereka tersenyum lepas seperti itu aku juga turut senang. Semoga kalian bahagia bersama. Aku mendukung hubungan kalian Kibum-ah Hyerin-ah. Mianhae karenaku dulu kalian sempat melalui masa-masa sulit.

Aku tersenyum dan meninggalkan gereja tempat pernikahan Kibum dan Hyerin diadakan.
—-
Author POV

Seorang kakek-kakek sedang membawa bunga dan duduk disamping sebuah makam yang nisannya bertuliskan nama ‘Park Hyorin’. Kakek-kakek itu tersenyum dan meletakkan bunga yang dibawanya ke makam itu.

“Hyorin-ah~ Kau tau umurku sudah tak muda lagi dan sebentar lagi aku akan menyusulmu. Kau tau walaupun dulu sewaktu muda aku dijuluki sebagai raja yadong tapi aku termasuk namja yang setiakan. Aku tau kau melihatku dari atas sana. Menunggu kehadiranku yang sebentar lagi menyusulmu. Hyorin-ah selama-lamanya I’m Still Loving You’… Saranghae Hyorin-ah”

THE END~

Seneng deh bisa buatin sekuel bwt para readers ff 1 ku yang nista waktu itu. Makasih buat readers yang udah mau ninggalin jejak di ff ‘TWINS NOT ALWAYS SAME’. Yang udah baca RCL ya~ Gomawo sampai jumpa di ff-ku yang selanjutnya…. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s