secret room of an angel

IN THE FUTURE

Tittle : In the future

Author : Sung Jae Mi a.k.a devilygusiltapitakutamadosa
Lenghth : Very-very Longshoot😛

Genre : Romance, Friendship, AU, Fantasy

 Cast :
Choi Jaerim~ OC’s
Bang Cheolyeong/Mir~ MBLAQ

Kim Yuki ~ OC’s

Do Kyungsoo/ D.O~ EXO K
Yang Seungho ~ MBLAQ

Lee Joon~ MBLAQ

Rating : PG 14

Setelah sempat dianggurin berminggu-minggu akhirnya ff ini jadi juga. FF ini juga merupakan ff tantangan dari temen sebangkuku. Wkwkwkwkwk~ Semoga Suka aja

^^HAPPY READING^^

Our life has differences….

We can’t enjoy our love life in long time…

Make happy ending and grown old together …..

But destiny make us together…

Make us can enjoy our short life together…

See you in the next life…

I love you forever…..

*****

Jaerim POV

“Jaerim-ah~” suara merdu khas dan panggilan yang tak asing terdengar. “Ye eomma???” kulangkahkan kakiku menuju orang yang memanggilku itu. Eommaku menyunggingkan senyuman manis yang khas miliknya.

“Jaerim-ah mulai besok kau boleh sekolah eomma sudah mendaftarkanmu tetapi kau tidak ikut dan selamanya tidak akan ikut  pelajaran olahraga” Aku mengangguk dan memeluk eomma.

Eomma dan aboejiku selama ini sama sekali tidak mengizinkanku bersekolah. Itu semua dilakukan orang tuaku karena kelainan jantung yang aku derita hanya saja euisa yang menanganiku kali ini menyarankan eommaku untuk tetap menyekolahkanku agar aku dapat melupakan penyakitku dan dapat bersosialisasi dengan orang lain.

“Khamsahamnida eomma naega jeongmal noreul saranghanda” biskku ditelinga eomma. “Nado saranghae Jaerim-ah” Eomma mengelus puncak kepalaku.

Author POV

Di suatu tempat yang rata-rata berdekorasi putih sesosok makhluk berwajah tampan tengah mengeluh. “Kenapa aku harus menjadi seorang death reapper??? Aku tak dapat merasakan apapun hatiku sudah beku satu-satunya hal yang dapat aku rasakan hanyalah ‘sakit, sedih’ “

Sosok itu nampak terbang mendekati sesuatu yang tinggi dan berwarna putih yang ternyata merupakan sebuah ruangan. “Seungho hyung”  Kata sosok itu dengan wajah datar membuat sosok didepannya merasa terganggu dan mendongak.

“Wae??” Sosok yang dipanggil Seungho itu menatap tajam sosok yang memanggilnya. “Aku hanya ingin pindah tugas aku sudah lelah menjalani hidup penuh dengan rasa sakit dan kesedihan. Tidak bisakah hyung mengajukan aku menjadi seorang guarder atau semacamnya kepada Tuhan??”

Dengan santainya Seungho menjawab. “Memang kau hidup??? Kau tidak diberi nyawa tugasmupun hanya sederhana menjemput nyawa. Bukankah itu sangat mudah” Matanya kembali menatap tumpukan kertas dihadapannya.

“Jebal hyung aku hanya ingin  mempunyai perasaan dan merasakan kebahagiaan tak peduli seberapa berisikonya hal untuk mendapatkan itu” Seungho nampak berfikir. “Baiklah akan kuajukan kepada pimpinanku mengenai hal yang kau inginkan itu tapi aku tidak berjanji kau akan diizinkan” Mir mngangguk dan mengepakan sayapnya pergi meninggalkan tempat itu.

Jaerim POV

“Huuuaaaahhhh~” Aku membuka mataku saat matahari belum menunjukkan keberadaannya. Hari ini hari pertama aku bersekolah hari pertama aku membuka lembaran baru menulis untaian-untaian kata di buku diariku mengenai suka duka sekolah.

Aku  memasukan beberapa alat sekolah ke dalam tas biru dongkerku. Setelah mengecek semua dan kurasa itu semua sudah siap aku masuk ke kamar mandi.

Di ruang makan

“Jaerim-ah jangan melakukan larangan yang telah dikatakan oleh Park euisa ya” kata appa dengan lembut. “Ye appa arrasemnida” tanganku meraih roti berselai didepanku dan memasukkannya ke dalam mulutku. Kurasakan perutku kenyang setelah melahap satu potong roti.

Eomma datang dengan membawa satu kotak bekal. “Jaerim-ah ini bekalmu ya” Eomma mengelus puncak kepalaku. “Kajja berangkat” appa bangkit dari kursinya dan eomma menyambut dengan mencium tangan appa mengantar kami ke halaman rumah.

Di mobil

“Jaerim-ah nanti appa akan lembur di kantor kau akan dijemput oleh Shin ahjusshi ya” Aku mengangguk dan memasang senyum ke arah appa walupun aku tau appa tidak akan melihatnya karena matanya fokus menatap jalanan.

Author POV

Di sekolah

Jaerim berjalan mengikuti seorang guru yang diketahui bernama Jung So Jung itu. Langkah kakinya nampak ragu tapi perlahan-lahan menjadi mantap.

Begitu kelas dibuka matanya langsung menyapu setiap sudut kelas. Setelah Jung songsaenim memerintahkannya untuk memperkenalkan diri semua rasa takutnya nampak hilang dan wajahnya memancarkan kebahagiaan. Senyum ta henti-hentinya mengembang dari bibirnya.

Jaerim memilih untuk duduk disamping yeoja yang terlihat imut dan ramah. Setelah beberapa menit mengobrol ternyata namanya Kim Yui. Kim Yui lebih muda satu tahun darinya. Baru hari pertama saja dia sudah merasa senang karena mendapat teman baik yang sangat ramah padanya itu.

Jaerim POV

Di kantin

“Yui-ya apa sekolah ini orangnya baik-baik?” Yui tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku. “Eonni pertanyaanmu lucu sekali” Ya dia memutskan untuk memanggilku dengan eonni karena umurku yang satu tahun lebih tua darinya.

Setelah menghentikan tawanya dia menatapku dengan tatapan aegyona. Yeoja ini benar-benar imut menurutku. “Semua orang disini baik-baik eon mereka tidak memandang status dan juga tidak membeda-bedakan teman jadi apa eonni betah bersekolah disini??” Dia menunjukkan gummy smile miliknya.

“Tentu saja apalagi kalau ditemani saeng yang imut sepertimu” terlihat semburat merah dipipinya. “Ah, eonni bisa saja” Kami melahap bekal kami masing-masing.

BRRRRAAAKKK~

Bekal Yui nampak sedikitbergeser dari tempat semula. Matanya yang mulanya tenang kini mulai memancarkan kemarahan.

“YA~ DASAR NAMJA PABO KENAPA KAU PUKUL-PUKUL MEJAKU HAH?! MENGGANGU SAJA” namja yang dibentaknya kini juga mulai tersulut emosinya. “SIAPA JUGA YANG MAU GANGGU KAMU KALAU AKU ENGGAK PNYA URUSAN” terjadilah adu mulut disini. “KAN BISA PANGGIL NAMA ATAU YA JUGA TAK APA-APA TAPI JANGAN PUKUL-PUKUL MEJA DONG” Karena mempunyai kelainan jantung, jantungku berdetak dengan cepat dan pandanganku mulai kabur pengelihatanku perlahan-lahan menjadi gelap.

Author POV

KYYYYAAAA~ Yui berteriak dan segera menelepon sopirnya untuk membawa Jaerim ke rumah sakit terdekat. Dengan cekatan sopir Yuki membawa Jaerim ke rumah sakit.

Krrreeeaaakkk….

Yui dengan wajah sedikit panik menemui euisa yang keluar dari ruang ICU. “Apa anda keluarganya??” yui mengangguk. “Ye euisa jeoneun ke yeoja yeodongsaeng imnida” “Apa kakak anda mempunyai kelainan jantung?” Yui mengingat-ingat semua perkataan yang diucapkan songsaenim didepan kelas tadi mengenai Jaerim dan menemukan satu kata. “Ye euisa eonni saya memang mempunyai kelainan jantung”

“Keadaannya sudah mulai membaik dan sudah sadar karena kecekatan anda membawa dia ke rumah sakit Jaerim-ssi bisa selamat” Yui langsung membungkuk 90˚ kepada euisa itu tanda terima kasihnya. “Sudah temui eonnimu” Yui menunjukkan gummy smilenya dan segera melangkah masuk ke ruang ICU.

Saat melihat Jaerim terbujur lemah di ranjang Yui merasakan rasa bersalah yang sangat dalam. “Mian.. Mianhae eonni baru sehari saja aku sudah membuat masalah buat eonni”

Dibalik alat bantu bernafasnya Jaerim tersenyum dan membelai lembut puncak kepala Yui. “Gwechanayo.. Aku sudah biasa mengalami serangan jantung dan gomawo telah membawa aku ke rumah sakit tepat waktu Yui mengangguk.

Yui dan Jaerim berpelukan. “Kemana namja yang bertengkar denganmu tadi dan siapa namanya??” Yui terlihat sedikit bingung dan wajahnya kembali menunjukkan rasa bersalahnya.

“Ehhhmmm…. Nama namja itu Do Kyungsoo dia beda kelas dengan kita eonni hanya saja eonni tau sendiri aku sering bertengkar dengannya sekarang aku tidak tau dimana dia” Jaerim mengagguk. “Apa kau sudah menelepon orang tuaku?” Yui menggeleng. “Bagus besok aku sudah pulang dan tolong jangan beri tahu soal hal ini ke orang tuaku” “Ye eonni, arraseo” Yui keluar ruangan dan menuju tempat administrasi.

Jaerim POV

I got you little runaway~

Aku memandangi hpku yang semenitpun tak berhenti berdering. Setelah memantapkan hatiku aku segera memencet tombol hijau di layar ponselku.

“Y..yoboseyo?!”

“Jaerim-ah~ Kau sedang berada dimana sekarang? Eomma dan appa sangat mengkhawatirkanmu~”

“ Eo…Eomma? A..aku sedang…”

Teleponku tiba-tiba diambil paksa oleh Yui

“Yoboseyo??? Anyyeonghaseyo Choi ahjumma jeoneun Kim Yui imnida saya teman Jaerim-ssi di sekolah barunya. Sekarang Jaerim sedang bersama saya dia baik-baik saja dan sudah meminum obat jadi ahjumma jangan khawatir besok Jaerim-ssi akan pulang hari ini Jaerim-ssi menginap di rumah saya bolehkah ahjumma???”

Mendengar perkataan Jaemi yang panjang lebar disertai aegyo di akhir kalimat itu membuatku ikut tersenyum bersamanya.

“…..”

“Jeongmal ahjumma??? Neomu Khamsahamnida~ Jweisonghamnda telah membuat Choi ahjumma dan ahjusshi khawatir. Annyeonghaseyo”

Yui nampak mengakhiri panggilan itu.

“Otte?” katanya dengan wajah sangat imut. Aku mengacungkan kedua jempolku.

Mir POV

Setelah mendapat panggilan dari Seungho hyung aku sesegera mungkin datang. Kepakan sayapku mulai kupelankan setelah melihat Seungho hyung dengan tatapan mata khasnya sedang menatapku dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.

Seungho hyung menyerahkan satu setel baju dan sepucuk surat. Matanya seakan mengatakan ‘Cepat buka’.

Aku membaca surat itu. Dan dalam surat itu menyatakan hal yang kutunggu-tunggu. Intinya aku menjadi seorang guarder.

“Selamat permohonanmu diterima dan ini profil orang yang akan kau jaga. Camkan pesanku ‘JANGAN JATUH CINTA’ dengan siapapun” aku mengangguk dan langsung mengepakkan sayapku menjauh menuju ruang guarder.

Dalam ruang ganti aku mengenakan baju baruku sebagai seorang guarder. Aku merasakan angin menerpaku seketika sayapku berubah menjadi seputih salju dan aku dapat merasakan kebahagiaan yang selama ini tak bisa kurasakan hanya saja aku masih sulit untuk mengekspresikannya melalui perbuatanku atau ekspresi wajahku.

Setelah puas mematut penampilanku di depan cermin aku membuka profil yeoja yang akan aku jaga. Dan bagaimana cara menjaga mereka. Yeoja ini bisa dibilang cantik.

Aku mencoba mengepakkan sayap baruku ini terbang diantara awan-awan Seoul tanpa ada seorngpun yang dapat melihatku.

Hari ini merupakan hari pertama aku menjaadi guarder. Seorang guarder harus membaur dengan manusia dan dekat dengan yeoja yang harus kulindungi.

Sebelumnya aku sudah mendengar beberapa hari yang lalu ada seorangng guarder yang dicabut sayapnya karena dia jatuh cinta dengan yeoja yang dijaganya. Dan sekarang dia menjadi seorang manusia. Kalau tidak salah namanya D.O aku belum pernah bertemu dengannya sih tapi aku merasa betapa mudah pilihannya itu tidak seperti yang pernah aku dengar dari Joon hyung.

KKKKRRRRIIIINNGGG~

Yap benar sekali sekarang aku mencoba untuk bersekolah kami dibekali dengan otak yang melebihi rata-rata juga wajah yang tak bisa dibilang jelek. Kami bisa memanipulasi keadaan bahkan membuat orang yang belum kami kenal menjadi kenal pada kami untuk menjalankan tugas kami.

“YA~ Mireu wasseo?” seorang namja berwajah ceria datang menghampiriku aku yakin namanya Kibum.Aku menyambut uluran tangannya. Kamipun melakukan tos ala anak-anak gaul disini.

Kami tergabung dalam 91’ lines. Hahaha terdengar lucu memang karena aku lahir di tahun 1991 dibumi. Padahal umurku jauh lebih tua dari mereka semua.

“Mireu gimana nantikan aku mau ngadain party kamu mau ikut enggak???” Aku menggeleng. Aku disini dikenal dengan sosok coolku. #uuweeekkk

——

Mir POV

Aku berjalan menyusuri koridor kelasku. Kini langkah kakiku telah membawaku ke depan sekolah tepatnya keluar gerbang sekolah. Baru beberapa hari saja aku sudah tidak betah ternyata benar kata Seungho hyung tapi ada enaknya juga sih bisa merasakan kebahagiaan punya teman terenyum mencontek ngebut dan masih banyak lagi.

Jaerim POV

Detakan jantungku kembali meningkat. Aku memegangi dada kananku yang terasa sangat sakit. Yui tadi sudah pulang diantar Kyungsoo ya mereka sekarang sudah berbaikan walaupun hanya kalau ada aku didekat mereka.

Aku jatuh entah dimana ini. Aku menarik tasku dan mencari obatku tapi aku tak menemukannya.

Kulihat sinar terang didepanku dan setelah aku mencermatinya ternyata itu mobil. Aku sudah pasrah karena kondisiku yang sudah tidak bisa berbuat apapun lagi.

Tiba-tiba….

Wuuusssshhhh~

Angin menerpaku dan aku melihat seorang namja sedang menggendongku di kedua tangan kekarnya. Matanya terlihat indah. Dia menyodorkan obat kedepan wajahku.

“Minumlah” katanya dingin. Walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya sangatlah sedikit dan terkesan dingin yang penting namja ini telah menyelamatkan hidupku.

Setelah aku memasukkan obat kedalam mulutku tangannya kembali menyodorkan satu botol air mineral. Aku hanya bisa menunjukkan senyuman lemahku padanya.

Entah kenapa setelah minum obat aku tidak merasakan perubahan di detak jantungku tapi aku rasa ini bukan serangan jantung. Apa ya yang terjadi padaku??

Manik matanya menatap dalam mataku. Kemudian bibirnya menyunggingkan senyum yang menurutku menawan dan terkesan kekanak-kanakan.

“Namaku Bang Cheolyeong tapi teman-teman memanggilku Mir. Bangapseumida” Dia mengulurkan tangannya. Tanganku yang bergetar akhirnya membalas uluran tangannya. Bibirnya kembali menyunggingkan senyuman khasnya.

“Kenapa tanganmu bergetar? Tenang saja aku tidak akan melukaimu” Karena dia merasakan getaran tanganku aku segera menarik tautan tanganku dari tangannya.

Aku berdiri dan merapikan sedikit barang bawaanku yang tadi berceceran karena ulah tanganku saat mengambil obat.

“Sepertinya kau masih sakit. Mari aku antar pulang ke rumahmu” Tanpa seizinku Mir-ssi langsung menarik tanganku. Dia melepas dasi yang terikat rapi dilehernya dan menutup mataku menggunakan itu.

Aku merasakan hembusan angin di sekitar tubuhku. Setelah beberapa saat dia membukakan ikatan dasinya di maaku dan aku telah mendapati diriku sudah berada di depan rumahku.

Mir Pov

Yeoja ini tampak bingung dan aku dapat melihat banyak pertanyaan yang tak dapat terlontar dari mulutnya. Sebelum dia sempat mengucapkan berbagai pertanyaan itu aku segera memotongnya.

“Sudahlah wajahmu pucat cepat masuk. Kalau kau masih penasaran denganku aku kelas 12 A. Annyeong” Wajahnya terlihat syok tapi akhirnya dia masuk dengan wajah yang lucu menurutku.

Setelah dia benar-benar menghilang dari balik pintu aku tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini aku merasakan kebahagiaan semacam ini. Selama aku menjadi death reapper aku tak pernah merasakannya.

Malam harinya…..

Aku mengganti baju manusia yang kukenakan dengan baju kebesaranku dan mengeluarkan sayapku.

Aku keluar melalui jendela kamarku dan mengepakkan sayapku menuju rumah Jaerim. Guarder tidak tidur kami menghabisakan waktu untuk menjaga yeoja kami. Jika yeoja kami dalam bahaya kami akan mendapat sinyal.

Aku memandangi Jaerim yang tengah tertidur pulas diranjangya. Wajahnya menunjukkan kedamaian. Entah kenapa jika aku memandangi wajahnya terlalu lama darahku seakan berdesir. Apakah arti dari ini semua??

Aku mencoba memasuki kamarnya dan duduk disamping ranjangnya. Tanpa sadar tanganku sudah mengelus puncak keplanya dengan lembut. Dia menggeliat dan memeluk tubuhku.

Dalam bentuk seperti ini kami hanya bisa disentuh oleh yeoja kami tapi mereka tidak dapat melihat kami kecuali kami menunjukkan diri kami. Jaerim memelukku sangat kuat seakan tak rela membiarkanku pergi.

Guarder yang menjaganya memilih untuk membakar dirinya karena dia sudah merasakan benih-benih cinta pada akhir tahun ini dan aku yang menggantikannya. Hanya saja gurdernya meninggal sebelum dia berani mengatakan cinta atau menampakkan dirinya pada Jaerim.

Bisa kurasakan pelukan Jaerim semakin erat dan keringat mengucur dari pelipisnya. Sebagai guarder yang baik akupun menghapus peluh itu dengan lembut agar tak membangunkannya.

Dia mendapat mimpi buruk dengan segera aku mengusap keningnya mencoba menggantikan mimpi itu dengan mimpi yang indah. Perlahan pelukannya mulai mengendur dan posisi tidurnya menjadi terlentang.

Sepanjang malam aku terus menjaganya. Menemani tidurnya tanpa dia sadari. Sepert inikah tugas para guarder?? Jika seperti ini terus mana ada guarder yang tidak menyukai yeoja mereka?? Bukankah cinta ada karena terbiasa..

KKKKKRRRRIIIIINNNNGGG~

Deringan jam weker miliknya menandakan tugasku malam ini sudah selesai. Aku melakukan peregangan sejenak kemudian mengepakan sayapku pergi. Sebelum pergi bisa kulihat ekspresi bingung dari wajah Jaerim.

Mungkinkah dia menyadari keberadaanku?? Kenapa aku jadi sangat penasaran mengenai hal itu?? Dan kenapa hatiku seakan berharap dia memandangku dan mengharap kehadiranku disetiap malamnya??? Ada apa denganku??

Aku menggelengkan kepalaku cepat dan bergegas meninggalkan rumah Jaerim.

Di sekolah….

Biasanya jika jam makan siang seperti ini aku lebih memilih untuk menyibukkan diriku dengan setumpuk buku atau melakukan rap di balkon atas sekolah.

Tapi kali ini hatiku mendorongku untuk pergi ke kantin. Mataku menyapu seluruh orang yang duduk disini dan berhenti tepat di manik mata milik Jaerim. Wajah yeoja itu memerah dan segera menunduk setelah melihatku.

Key melambaikan tangannya dan menunjuk-nunjuk kursi disebelahnya yang terlihat kosong. Aku membalas lambaiannya dan berjaan menghampiri kursi kosong di samping Key.

“Tumben mau ke kantin biasanya kalau udah bunyi bel kamu udah ngilang entah ke mana” Komentar Dongwoon. Aku menunjukkan cengiranku yang sebelumnya tak pernah aku tunjukkan pada mereka.

“Huuuaahhh~ Sekarang kamu sudah belajar nyengir ya… Chukkae” kata Key heboh.“Sudahlah jangan terlalu berlebihan” sahutku. Aku duduk dan menatap mata teman-temanku.

“Jangan tatap kami dengan mata seperti itu dong kau tau tatapanmu itu mirip sekali dengan tatapan seorang death reaper yang akan mencabut nyawa kami” aku tertawa dalam hatiku. ‘Aku memang mantan death reaper tapi aku tidak menyangka aku masih memiliki tatapan tajam itu’ batinku.

“Mianhaeyo” Tanganku melambai pada seorang pelayan dan mataku tak sengaja menangkap mata seorang namja yang bisa kurasakan energinya berbeda. Instingku langsung memberi tahuku kalau dia seorang Guarder.

Pelayan sudah melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku membuatku tersadar dan spontan menatap daftar menu yang disodorkannya.

Setelah mengatakan pilihan menuku pada pelayan itu aku sudah tak menemukan namja itu.

Jaerim POV

Manik mataku seakan terkunci di satu pandangan. Aku tak bisa berhenti menatap gerak-gerik namja bermarga Bang itu. Bahkan Choi Minho atau Key sekalipun tak dapat mengalihkan mataku darinya.

“Eonni-ya” Yui berkata dengan suara serak dia sedari tadi hanya tidur dan wajahnya pucat mungkin ini salah satu faktor yang menyebabkan aku tak dapat mengalihkan perhatianku dari Mir.

Mataku baru bisa beralih menatap Yui yang nampak kesakitan. “Kepalaku terasa sedikit pusing. Eonni, bisakah kau mengecek suhu tubuhku??” tanya Yui masih dengan wajah pucat dan suara yang serak.

Aku menempelkan punggung tanganku ke kepalanya. Suhu badannya benar-benar tinggi. Yui bukan tipe orang yang mudah mengeluh jika sakit. Dia selalu dapat menahan rasa sakitnya dan berkata aku baik-baik saja ini semua aku dengar dari Kyungsoo. Tapi kali ini dia memintaku untuk memeriksa suhu tubuhnya??

“Apa kau baik-baik saja?? Apakah sepusing itu??” tanyaku kuyakin kini wajahku berubah cemas. Benar dugaanku dia menggeeleng cepat. “Nan Gwechana eonni hanya sedikit pusing” “Mau kuantar ke UKS???” “Aku memang berniat kesana sekarang tapi aku bisa sendiri” Yui berjalan dengan memegangi kepalanya dan langkah kaki yang bisa dibilang tak kuat.

BBBRRRRUUUUKKK~

Yui jatuh pingsan untung saja Kyugsoo yang lewat disampingnya dengan sigap menangkapnya. Kyungsoopun membawa Yui ke UKS. Dia mengangkat tubuh mungil Yui menuju kesana aku yang sahabatnya mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang terbilang cepat.

Namja ini?? Bukannya dia membenci Yui?? Sebenarnya apa yang terjadi antara mereka berdua?? Baru melamun sedikit saja Kyungsoo sudah menghilang dari pandangan mata aku menyusulnya ke UKS. Tapi yang aku dapati hanyalah ruangan kosong. Kemana Kyungsoo membawa Yui ya??

Aku berlari kemanapun aku bisa aku takut jika terjadi apa-apa dengan Yui. Saat aku sudah dekat dengan suatu ruangan lain yang menangani kesehatan siswa sebuah tangan kekar menarikku.

Aku dipeluk oleh seseorang karena kaget reflek aku mencoba melepaskan diri. Aku mendongak dan ternyata yang memelukku… Mir… Jantungku kembali berdetak dengan cepat dia merogoh saku celanaku dan mengambil beberapa obat dari sana kemudian menyodorkanku air mineral.

“M.mir….sshi??!” aku yang mencoba mengeluarkan suara malah tergagap. “Bukankah kau membutuhkan ini?? Cepat ambil” Mir lebih mendekatkan obat dan air mineral itu padaku.

Aku mengambil obat-obatanku dengan kasar karena jantungku sudah tak menoleransi lagi. Setelah menelan semua obatku aku terduduk di lorong kelas menyender di tembok depan kelas 12B.

“Apakah masih sakit??” Aku mengangguk lemah sambil memegangi dada kananku. “Mari aku bantu kau ke ruang UKS” dia menggendongku di punggungnya. “Bukankah kau hoobaeku??? Kenapa kau tidak panggil aku oppa??” Wajahku bersemu seketika bukannya kalau aku panggil dia oppa dia sudah menganggap aku dekat dengannya.

Karena tadi aku baru saja melewati UKS jadi kami dengan cepat sudah sampai di UKS. “Walaupun terlihat kecil kau berat juga ya??” Dia menunjukkan senyum kekanak-kanakannya lagi.

Aku berbaring dan kembali teringat soal Yui. Seketika aku sudah terduduk di ranjang. Seakan bisa membaca pikiranku Mir…oppa berkata “Yui baik-baik saja. Dia akan aman bersama Kyungsoo lebih baik kau istirahat saja disini”

Mendengar jawaban Mir oppa aku jadi penasaran apa sebenarnya dia. Mir oppa meraih tanganku entah karena pengaruh tangannya tau obatku yang mulai bekerja rasa sakit di jantungku  perlahan mulai hilang.

“Mir-sshi…eh Mir oppa kenapa kemarin kau bisa…Eh… bagaimana ya?” Mir tersenyum matanya yang indah juga ikut tersenyum bersama sungingan di bibirnya.

“Sebaiknya kau tak usah tau mengenai itu. Kau hanya perlu tau aku ini sunbaenimmu dan namaku Bang Cheolyeong” aku mengangguk walaupun banyak pertanyaan yang berputar-putar di otakku.

“Lalu soal Yui darimana oppa tau??” “Oh,, soal itu sih mudah aku tadi bertemu dengan mereka Kyungsoo membawanya ke dokter sekarang karena….” Kata-kata Mir oppa menggantung.

“Karena apa oppa?” “Karena demam Yui yang sudah sangat tinggi” Aku ber Oh ria mendengar jawaban Mir oppa.

Malam harinya……

Malam ini aku tak dapat tidur dengan nyenak karena memikirkan Yui yang tidak mengangkat telponnya sejak dibawa Kyungsoo tadi siang.

Pikiranku berkecamuk dan akhirnya memutuskan untuk kembali menghubungi Yui. Kakiku terus melangkah bolak balik di kamarku sendiri menunggu jawaban dari telepon Yui.

Setelah 25 kali menelepon dan tak dijawab olehnya aku menyerah dan mencoba merebahkan badanku di tempat tidur kemudia terlelap.

Sebelum aku dapat memejamkan mataku dengan baik hpku bergetar pertanda ada sms yang masuk.

From : Yui-saengi ^^

Eonni~ Nan gwechanayo Aku sudah dirumah mian aku tidak mengabarimu tadi… Kyungsoo mengantarku pulang setelah check up ke dokter dan aku ketiduran dengan keadaan hp yang silent… Mianhae telah membuat eonni khawatir~ Jaljayo eonni-ya~ ^^

Yui~

Setelah membeca pesan dari Yui aku sudah merasa tenang dan dapat memejamkan mataku. Saat aku tidur aku selalu merasa terlindungi dan hangat entah kenapa.

Tapi kemarin kehangatan yang kurasakan terasa sangat berbeda dan aku menyukainya.

Wuuuusssshhh~

Seakan ada angin yang masuk aku merasakan kehangatan itu lagi juga sentuhan-sentuhan lembut yang berhasil membut mataku berat dan terlelap.

Author POV

Sebulan setelah Jaerim bersekolah…..

Jaerim sedang memandangi soal didepannya dengan tatapan frustasi. Bukannya karena dia tidak bisa mengerjakan tetapi karena nyawanya sedang berada di lain tempat.

“ya~ eonni-ya~ gwechanayo??” tanya Yui dengan sedikit berbisik. “Nan gwechana” jawab Jaerim yang juga berbisik tapi dengan nada malas.

“Soalmu belum ada satupun yang kau jawab dan waktunya hanya tinggal 5 menit ini aku beri jawabanku” Yui menyerahkan lembar jawabnya pada Jaerim. “Jeongmal?” mata Jaerim beralih memandangi jam tangannya.

“Kau benar. Gomawo” dengan cepat Jaerim menyalin semua jawaban Yui tanpa berpikir panjang.

Tepat 10 detik setelah Jaerim mengerjakan bel tanda usai pelajaran berdering dan songsaenimpun keliling untuk mengambil lembar jawab para murid.

Jaerim POV

Di kantin…

“Yui-ya agar aku tak seperti ini ceritakan aku satu hal yang menarik bukannya kau selalu mempunyai banyak cerita menarik???”

Yui nampak mengaduk-ngaduk nasi yang sama sekali belum dimakannya. “Apa ya?” wajahnya nampak menunjukkan ia tengah berpikir.

“Aku sedang tidak mood bercerita lucu eon.. Ottokhae?” Yui menggembungkan pipinya. “Kau pasti sedang bad mood lagi ya?” dia mengangguk pelan.

“Pasti karena Kyungsoo.. Sebenarnya hubungan kalian itu apa sih??” tersirat kebingungan dari raut wajah yui. “Aku?? Dan namja itu?? Hahahahahaha~ Kenapa aku harus badmood dengan namja sepertinya bahkan bertemanpun tidak. Eonnikan tau sendiri”

Aku mengangguk pasrah. Kini pikiranku melayang memikirkan Mir oppa yang selama ini entah kenapa selalu muncul disaat-saat aku butuh. Juga suka maupun duka dan saat bersamanya aku serasa terkena serangan jantung.

Aku tersadar dari lamunanku setelah Yui menggerak-gerakkan tangannya ke atas dan kebawah tepat di depan wajahku.

“Seperinya eonni juga memiliki masalah… Coba ceritakan eon” raut wajahnya sudah berubah menjadi ceria dan menggebu-gebu dengan mata yang dilebarkan pertanda dia sudah sangat siap mendengar cerita dariku.

“Eonni-ya~ Apa kau mendengarku??” “Baiklah.. Aku akan menceritakannya. Apa kau pernah tidur dengan perasaan selalu terlindungi atau hangat atau serasa ada yang memelukmu??”

Yui mengangguk. “aku sering dan sangat sering merasakannya semenjak umurku 13 tapi belakangan ini aku merasa kalau sesuatu yang menjagaku itu sudah tidak menjagaku lagi” katanya dengan raut wajah sedih.

“Apakah itu benar terjadi??” Dia menggeleng cepat. “Kata psikolog yang didatangkan halmoniku aku hanya merasakan hal itu karena aku haus akan perhatian dan menyebabkan khayalan yang berlebihan”

“Benarkah?? Tetapi kenapa aku merasakan hal itu begitu nyata juga aku tak pernah bermimpi buruk barang sekalipun”

“Awalnya juga aku merasa seperti itu eon tapi aku hanya berusah meyakinkan diriku untuk befikir logis saja dan kini aku tak merasakannya lagi Yah walaupun aku sedikit merasa kehilangan dan rindu”

Yui memang kekanak-kanakan dalam hal berbicara dan kelakuannya tetapi dia sangat bisa menjadi dewasa ketika dibutuhkan. Dan dia berhasil melakukan kedua sifatnya itu pada tempat yang sesuai. Sampai terkadang aku berfikir apakah dia berkepribadian ganda??

Mataku menangkap dua sosok namja memasuki kantin. Mereka adalah Kyungsoo dan Mir. Tanpa sengaja mataku dan mata Mir bertemu. Sebelum dia melihat semburat merah dipipiku aku segera mengalihkan pandanganku darinya.

“Annyeong~” tanpa aku sadari ternyata langkah kaki mereka menuju mejaku.. Sial?! Pekikku dalam hati.

“Annyeong” Yui tersenyum pada Mir dengan gummy smilenya tanpa menganggap keberadaan Kyungsoo. “Mau apa kau kemari?!” tanya Yui ketus bisa kupastikan ini pasti ditujukan pada Kyungsoo.

“Tentu saja ingin makan. Apa kau tidak menyadari kalau semua meja disini penuh?” Kyungsoo menjawab dengan santai. Yui nampak sudah tersulut.

“Sudahlah Yui-ya jangan sepert itu. Jadi kalian ingin bergabung dengan kami?? Duduk saja kami tidak keberatan kok”

“Mwo?!” mata Yui membulat. Kyungsoo tersenyum penuh kemenangan dan duduk tepat didepan Yui. Tunggu kalau Kyungsoo duduk di sebelah situ berarti di depanku adalah… ‘Mir oppa’

Kyungsoo dengan cepat dapat membuka topik pembicaraan dengan mudah. Kami tertawa bersama. Yui nampak menikmati setiap candaan Kyungsoo.

“Jaerim-ah” Mir oppa berbisik. Aku menatap kedua manik mata itu lagi. Manik mata yang selalu berhasil membuat pipiku merona.

“Waeyo oppa?!” tanyaku padanya. “Apa kau lihat mereka sebenarnya sangat cocok. Bagaimana kalau mereka kita jodohkan” mataku membulat dan otakku berusaha mencerkan setiap kata yang terlontar dari mulutnya.

Benar juga. Hanya saja Yui pernah brcerita kalau dirinya tidak mau mempunyai namjachingu.

“Aku tidak setuju oppa~ Yui tidak ingin mempunyai namjachingu” nampak raut kekecewaan dari raut wajahnya.

Author POV

Keempat orang tadi sibuk bercakap dengan topik yang berbeda tanpa memperdulikan keadaan sekeliling mereka.

Tanpa mereka sadari mereka tengah diawasi oleh seorang namja bermata tajam dengan tatapan dan espresi yang sulit ditebak dan terkesan dingin.

“Sudah kuduka akan begini akhirnya” suara namja itu terdengar berat. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. “Bahkan luka dipunggungnya belum seutuhnya kering” secepat kilat namja itu sudah hilang bersama angin yang berhembus.

Mir mulai menengok. Matanya tak menemukan apapun disana tetapi perasaannya berkata lain.

‘Apa Seungho hyung berada disini?!’ batinnya.

KRRRIINNNGGGG~

Kyungsoo memasuki rumahnya dengan wajah yang ditekuk dan menunjukkan kesakitan yang tak dapat tergambarkan oleh kata-kata.

“Yui-ya~” tanpa mengganti bajunya dia langsung melempar dirinya ke atas kasur empuk miliknya.

“Sesakit inikah?? Rasanya meskipun dia yang mencabut sayap ini” kata-kata yang sama sekali tak seorangpun mengerti kecuali Kyungsoo sendiri terus meluncur dari bibir tebalnya.

Sudut matanya tampak mengeluarkan cairan bening. “Semoga kau dapat menerima keadaanku” Kyungsoo melepas baju sekolahnya berniat untuk menggantinya dengan baju rumahan.

Tapi gerakannya terhenti saat dia menatap dua goresan besar dipunggungnya. Bekas luka yang belum sepenuhnya mengering dan menutup. Bekas luka yang masih terlihat kemerahan.

Tangannya mencoba meraih luka itu seiring dengan itu cairan bening kembali menetes dari sudut matanya.

—-

Rumah Yui~

Yui melamun di balkon kamarnya. Dia menatap keindahan langit sore dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang pada sosok namja yang sudah bertahun-tahun mengisi hidupnya.

“Kenapa aku baru menyadarinya?!” wajahnya menunjukkan penyesalan. Kakinya kembali melangkah masuk ke dalam kamar dan terhenti setelah melihat sebuah album foto bersampul biru tergeletak di atas sebuah meja.

“Kenapa aku begitu bodoh untuk menyadari semua itu?” kata-kata penuh penyesalan kembali terlontar dari bibirnya.

Dia meraih album itu dan membukanya di atas ranjang dengan posisi duduk. Tangannya membuka satu per satu halaman album itu.

“Dia selalu ada dimanapun. Di saat apapun.. Kenapa aku baru menyadarinya” tangannya mengelus foto seorang anak laki-laki.

“Mianhae telah membuatmu menunggu terlalu lama dan soal mimpiku yang seperti kenyataan itu apakah itu semua kenyataan?” Air mata mengalir dari matanya yang besar.

“Jika itu memang benar terjadi mianhae dan gomawo. Mulai sekaang aku akan mencoba peka kepadamu” itu adalah kata terakhir yang diucapkannya sebelum dia menutup album foto itu dan terlelap.

—-

Rumah Jaerim

Mata sipit yeoja itu tengah tertutup rapat. Dia tengah terlelap dalam mimpinya.

Mimpi Jaerim….

Jaerim bermimpi kalau dia tengah berlarian di tengah padang rumput nan hijau yang dipenuhi dengan bunga-bunga cantik. Setelah puas berlarian dia mencari sosok yang ditunggunya. Bola matanya  nampak bergerak ke kanan dan kekiri.

“Oppa~” senyumannya memancar indah ketika seorang namja yang sepertinya sudah dinantinya duduk disampingnya dengn membawakan sebotol susu pisang.

“Waeyo?”

“Kenapa kau lama sekali hah?!”

“Mianhaeyo….” Tangan namja itu menarik Jaerim ke pelukannya.

“Mir oppa apa kau tau aku sangat senang hari ini”

“Kenapa kau sangat senang apakah karena aku?”

Jaerim mengangguk malu-malu.

Mir mengajak yeoja itu berjalan-jalan di padang bunga itu tetapi kali ini dengan tempo jalan yang lambat bukan berlari. Tangan mereka saling berkaitan.

“Apa kau tau seharusnya kita tak melakukan ini walaupun hanya didalam mimpi” “Kenapa oppa?! Apa ada alasan tersendiri untuk hal itu?” Mir mengangguk. “Aku seharusnya tak mencintaimu” Tatapan Mir berubah sendu.

“Kenapa oppa~ Bukannya kau senang mencintai aku?” tanya Jaerim dengan polos. “Benar dan aku menyukainya hanya saja…. Kita tidak ditakdirkan untuk bersama” Kini langkah kaki mereka benar-benar terhenti.

“Tapi takdr bisa diubah jika kita mau berusaha oppa” Mir kembali tersenyum mendengar kata-kata yeoja itu. “Kau benar” mereka kembali melangkahkan kaki mereka.

—-

BRRRRAAAAKKKK~

Mir POV

Kepalaku dihantam oleh tangan milik Seungho. “Hyung~ Apayo” rintihku. Harus kuakui kali ini salahku. Tapi tak ada yang bisa kuper buat. Tangan Seungho hyung tak henti-hentinya menonjok wajahku.

Sedangkan aku hanya bisa menerima semua tonjokkannya tanpa melakukan balsan apapun. Tinjuannya semakin melemah. Posisiku telah terpjok di dinding. Karena kehilangan tenaga tubuhkupun merosot ke bawah. Luka memar memenuhi tubuhku sekarang.

Seungho hyung menyetarakan posisisnya agar sama sepertiku. Ku tatap matanya yang tajam. Tangan Seungho hyung bersiap menonjokku untuk yang ke sekian kalinya. Aku menutup mataku.

BUGH~

Tak terasa apapun yang menghantam tubuhku. Seungho hyung menghantam tembok di sampingku. Air mata perlahan turun melalui matanya. “Dasar anak bodoh” Seungho hyung tersenyum mengejek.

“H…Hyung~” Air matanya tak berhenti mengalir. “Kau tau sudah kubilang akan begini akhirnya. Ku tau akan begini akhirnya” Seungho hyung mengusap air matny dan mulai membntuku berdiri.

Tangannya mengusp lukaku. Seketika itu lukaku langsung hilang tak berbekas. Seungho hyun… Wae irae??? “Kau tau bangsaku sangat tak enak. Tak bisa melawan takdir tapi bisa membaca mas depan” Dengan kecepatn yang tak bisa dibilang lambat Seungho hyung sudah duduk di sofa ruangan ini dengan wajah yang kembali terlihat menakutkan.

“Apa maksud hyung??” Aku memasang wajah bingungku. Seungho hyung hanya menunjukkan senyuman meremekannya. “Besok masa pengadilanmu. Ada dua pilihan untukmu. Mati dan bereinkarnsi menjadi manusia atau tetap hidup sebagai manusia buta yang tak dapat melakukan apapun untuk yeojanya yang sekarat???”

Jadi… Pengadilan langit telah memutuskan??? Hah??~ Mau bagaimana lagi??? Tunggu menjadi manusia buta yang tak dapat melakukan apapun untuk yeojanya yang sekarat??? JAERIM ANDWEEEE~

“Hyung?! Pilihan macam apa itu??? Kenapa Kyungsoo hanya mendapatkan hukuman cabut sayap???” “Itu karena dia mengakuinya lebih cepat dan di cabut sayapnya bukan oleh kawanannya tapi yeoja yang dicintainya. Bukankah itu lebih menyakitkan???” Kata-kata seungho hyung itu bernada sangat menyindir.

“Sudahlah kau tak punya banyak waktu. Sekaran ikut aku” Seungho hyung menarik paksa jiwa ini bersamanya. Jaerim-ah maafkan oppa~ sesalku dalam hati.

Di ruang pengadilan langit…..

Ruangan ini begitu menakutkan. Tangan dan kakiku di rantai di sebuah kursi. Sedangkan sepanjang ku memandang hanya bisa erihat api. Keringat tak berhenti mengucur dari pelipis ini.

Perlahan api di depnku mulai terbuka atau lebih teptnya membelah sehingga menampakkan sosok mengerikan di depanku. “Jadi?? Apa yang kau pilih Mir-sshi??” Api itu perlahan padam tergantikan oleh sosok yang selama ini bersamaku. Ada Joon hyung, dan juga ada Seungho hyung. Mereka menatapku dengan tatapan ‘Mianhae’.

“Aku menginginkan mati dan berenkarnasi menjadi seorang manusia biasa”

AAARRRRRRRRRGGGGGGGHHHHHHHH~

Kurasakan sesuatu yang besar menghantam kepalaku. Dan pandangaku mengabur. Inikah yang di namakan sekarat???

—–

Jaerim POV

Berhari-hari ku tak bertemu dengan Mir Oppa. Bahkan saat aku meniup lilin di depankupun aku tetap mengingatnya dan berharap akan segera bertemu dengannya. Jantungku berdetak begitu cepat. Sebelum kuambruk aku sempat mendengar jeritan. Bukan jeritan Eomma dan appa tapi suara ini lebih mirip dengan suara Mir Oppa.

Tit….Tit…Tit….

Ku dengar bunyi alat elektrogardiograf di sampingku. Tubuhku begitu lemah. Tak dapat melakukan apapun lagi. Ku dengar tangisan Eomma, Appa dan Yuki di luar.

Dokter mengatakan kalau hidupku sudah tak lama lagi. Orang yang memiiki kelemahan jantung sepertiku hanya dapat bertahan hingga umur 16 tahun. Dan benar saja di umurku yang genap 16 tahun ini. Aku merasakan aku sedang sekarat.

Mataku terasa begitu berat. Detak jantungku begitu lemah. Kenapa hidup begitu tak adil???

TTTTTTTTTTTTTTIIIIITTTTTTTT~

Author POV

Jaerim meninggal di hari ulang tahun ke 16-nya. Begitu juga dengan Mir namja yang begitu di sayanginya lebih memilih untuk mati daripada hidup tnp bisa berbuat apa-apa untuk menolong Jaerim. Tanpa mereka tahu takdir telah berkata lain. Tuhan berkehendak lain…

^^2031

Seorang namja dengan mata indah tengah berjalan santai menemui teman-temannya di ujung jalan tanpa sengaja da menubruk seorang yeoja dengan peringai ceria dan perawakan kecil. Buku-buku yang di bawa yeoja itupun terjatuh.

Saat membntu yeoja itu dalam membereskan buku-bukunya mata merek sempat bertemu dan mengenli satu sama lain.

“Kita saling kenal???” tanya mereka bersamaan. Merek tertawa sejenak dan berdiri. “Namaku Bang Cheolyeong senang berekanalan denganmu dan maaf telah menjatuhkan bukumu” Yeoja itu tersenyum malu-malu dan membelas ulura tangan namja bernama Cheolyeong itu. “Namaku Choi Jaerim Senang bertemu denganmu juga”

~THE END~

        Hahahahah~ Selamat buat Mir Oppa~ Anda beruntung menjadi orang yang mendapatkan happy ending…😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s